Ahad 26 Feb 2023 14:32 WIB

Presiden Jokowi: Jangan Salah Pilih Koalisi

Presiden Jokowi mengimbau partai politik jangan salah memilih koalisi di Pemilu 2024.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Bilal Ramadhan
Rakornas Partai Amanat Nasional (PAN) di Hotel Padma Semarang pada Ahad (26/2/2023). Presiden Jokowi mengimbau partai politik jangan salah memilih koalisi di Pemilu 2024.
Foto: Istimewa
Rakornas Partai Amanat Nasional (PAN) di Hotel Padma Semarang pada Ahad (26/2/2023). Presiden Jokowi mengimbau partai politik jangan salah memilih koalisi di Pemilu 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan partai politik agar tak salah memilih koalisi untuk menghadapi pemilu 2024. Saat membuka rapat koordinasi nasional dan workshop Partai Amanat Nasional (PAN) di Semarang, Jawa Tengah, Ahad (26/2), Jokowi menekankan pentingnya kerja sama dan koalisi antarpartai sehingga tak terjadi politik yang memecah belah.

“Jadi memang dalam politik kalau yang namanya kerja sama itu memang wajib, jangan justru politik itu memecah belah kita. Sehingga sekali lagi, kerja sama itu penting, koalisi itu penting, jangan salah memilih koalisi,” ujar Jokowi.

Baca Juga

Ia pun menekankan kerja sama antar partai politik untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “Yang paling penting perkuat kerja sama kebangsaan kita, sehingga persatuan kita tetap terjaga, kesatuan kita tetap terjaga,” lanjutnya.

Jokowi kemudian memaparkan kinerja pemerintah selama delapan tahun terakhir. Ia mengklaim sudah banyak perubahan yang dilakukan oleh pemerintah. Karena itu, ia ingin agar perubahan-perubahan yang telah diupayakan oleh pemerintah saat ini bisa dilanjutkan ke depannya.

“Sehingga ke depan memang harus kita lanjutkan perubahan-perubahan yang telah kita lakukan,” ujarnya.

Lantas Jokowi mencontohkan perubahan-perubahan yang telah dilakukan oleh pemerintah, salah satunya yakni pembangunan. Ia mengatakan, dahulu pembangunan selalu Jawa sentris di mana hampir 70 persen infrastruktur dibangun di Jawa.

Namun kini pemerintah telah menggeser pembangunan tidak hanya di Jawa saja, melainkan Indonesia sentris. Misalnya saja pembangunan infrastruktur yang telah menghabiskan anggaran hingga Rp 3.309 triliun. Pembangunan infrastruktur di berbagai daerah itupun mendorong peningkatan investasi di luar Jawa.

“Kemudian pergeserannya terjadi karena infrastrukturnya siap, misalnya jalan tol, bandara airport sudah siap di luar Jawa, dihubungkan dengan kawasan industri, kawasan perkebunan, kawasan pertanian, kawasan pariwisata, kemudian investasi menjadi bergeser. Dulu 70-30, selalu investasi di Jawa 70 (persen), sekarang sudah bergeser 53 persen itu di luar Jawa bukan di Jawa lagi,” jelas Jokowi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement