Sabtu 02 Apr 2022 13:56 WIB

Ruang Publik Jangan Hanya Didominasi Isu Politik-Ekonomi

Penulis Satupena harus mewarnai ruang publik dengan sastra dan kebudayaan.

Pertemuan Tahunan Penulis Satupena yang diselenggaran secara hybrid, Kamis (31/3/2022)
Foto: istimewa/doc humas
Pertemuan Tahunan Penulis Satupena yang diselenggaran secara hybrid, Kamis (31/3/2022)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, Denny JA mengatakan ruang publik Indonesia harus diwarnai karya sastra dan budaya. Jangan hanya didominasi isu politik dan ekonomi.

“Karena itu, sekecil apapun, penulis Satupena harus mencari cara ikut membangun Indonesia sebagai negara literasi (Country of Literature),” kata Denny dalam siaran persnya, dalam siaran persnya, Sabtu (2/4/2022). 

Hal ini disampaikan Denny JA dalam pertemuan tahunan Satupena. Kegiatan ini dilakukan secara hybrid, yaitu melalui webinar dan tatap muka, Kamis (31/3/2022). Sebanyak 456 penulis dari 34 provinsi, mengikuti kegiatan ini.

Menurut Denny, sekalipun Indonesia sudah 76 tahun merdeka, tak hadir organisasi penulis yang usianya di atas 10 tahun. Padahal di  luar negeri, banyak ditemukan organisasi penulis yang usianya di atas 100 tahun. Seperti di Amerika Serikat atau di Eropa. 

Bahkan di India yang merdeka lebih telat dibanding Indonesia, lanjut Denny,  juga memiliki organisasi penulis yang usianya lebih tua dibandingkan usia kemerdekaan negaranya.

Perlu tiga hal sekaligus untuk membangun organisasi penulis yang kokoh. Menurutnya, tiga hal itu adalah visi organisasi yang sesuai dengan zamannya, leadership yang kuat, dan dana yang memadai. "Selama ini, tiga hal itu yang tak hadir sekaligus,” ungkapnya.

Denny juga berkisah tentang Satupena yang kini dipimpinnya. Ketika ia terpilih secara aklamasi di bulan Agustus 2021, organisasi satupena terpecah dua, dan memiliki kepengurusan kembar. “Mudah sekali organisasi penulis pecah,” tegas Denny. 

Hal pertama yang dia lakukan adalah menyatukan kembali organisasi. Secara hukum, kata dia, harus hanya satu organisasi yang memiliki nama Satupena.

Akhirnya, lanjut Denny, pada September 2021, Menhumkam hanya mengesahkan Satupena Denny JA. “Pada Januari 2022, Satupena pihak sana berganti nama.  Praktis hanya membutuhkan waktu empat bulan, Satupena menjadi satu kembali,” ungkapnya.

Setelah itu Denny membentuk kepengurusan penulis di 34 provinsi. Pada Febuari 2022, Denny melantik koordinator Satupena di 34 provinsi dan koordinator 6 pulau: Sumatra, Jawa, Bali-NTB-NTT, Sulawesi, Kalimantan dan Papua- Maluku.

Saat ini, lanjut dia, Satupena juga memiliki Satupena TV. Hingga Maret 2022, Satupena TV sudah mempublikasi lebih dari 40 video soal 40 proses kreatif penulis fiksi dan non-fiksi.

Satupena juga menyelenggarakan webinar mingguan soal buku dan peristiwa bermakna bagi wawasan penulis. Hingga Maret 2022, sudah terselenggara 32 seri webinar.

Satupena juga sudah memilih 100 buku yang membentuk batin Indonesia sejak era kolonial. Enam dari 100 buku itu sudah diterbitkan ulang. 

Menurut Denny, masih banyak program Satupena lainnya. Seperti i koneksi penulis ke dunia industri. Juga kerjasama dengan aneka stakeholders memerangi pembajakan. "Untuk temu darat, satupena juga mempopulerkan program Book and Music yang kini sudah terselenggara di banyak provinsi,” kata Denny JA.

Pada pertemuan tahunan Satupena pada Maret 2022, para penulis di berbagai daerah banyak mengangkat isu penting. Antara lain terkait perlunya karya lokal lebih diperhatikan, peningkatan kesejahteraan penulis, maupun dana untuk kegiatan penulis yang dirasakan kurang.

Dalam waktu kurang dari setahun kepemimpinannya di Satupena, Denny JA, sudah menyumbangkan lebih dari satu miliar rupiah untuk menggerakan organisasi Satupena.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement