Senin 10 May 2021 16:39 WIB

Antisipasi Lonjakan, Menkes Siapkan Tempat Tidur Hingga Obat

Dari total kapasitas 70 ribu tempat tidur isolasi, baru 23 ribu yang sudah ditempati.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Friska Yolandha
Petugas medis membawa pasien menggunakan tempat tidur roda keluar dari ruangan rawat pinere saat peresmian dan pengoperasian Rumah Sakit Rujukan COVID-19 di Banda Aceh, Aceh, Selasa (20/4).Pemerintah menyiapkan skenario terburuk untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 pascalebaran nanti.
Foto: Antara/Ampelsa
Petugas medis membawa pasien menggunakan tempat tidur roda keluar dari ruangan rawat pinere saat peresmian dan pengoperasian Rumah Sakit Rujukan COVID-19 di Banda Aceh, Aceh, Selasa (20/4).Pemerintah menyiapkan skenario terburuk untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 pascalebaran nanti.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah menyiapkan skenario terburuk untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 pascalebaran nanti. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, pemerintah telah menyiapkan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit hingga kesiapan obat-obatan dan fasilitas lainnya seperti oksigen.

“Lebaran sudah dekat dan tugas kami adalah mempersiapkan kondisi terburuk. Saya merasa dan berharap insya allah ini tidak terjadi. Tapi toh kalaupun terjadi peningkatan penularan, kita ingin melakukan antisipasi agar kita tidak kaget dan cukup fasilitasnya,” kata Budi saat konferensi pers usai rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (10/5).

Ia mengatakan, saat ini total jumlah tempat tidur di rumah sakit secara nasional mencapai 390 ribu, namun pemerintah menyiapkan sekitar 70 ribu tempat tidur yang dikhususkan untuk kamar isolasi pasien Covid-19. Selain itu, secara nasional juga terdapat 22 ribu ICU di rumah sakit, namun yang disiapkan untuk menangani pasien Covid-19 dengan kondisi berat sebanyak 7.500 ICU.

“Jadi kita konsentrasi dulu. Saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa kapasitas rumah sakit dan ICU yang kita miliki itu masih 3 kali lebih besar daripada kapasitas tempat tidur dan ICU yang kita dedikasikan untuk Covid-19,” ungkap dia.

Saat ini, sebanyak 23 ribu tempat tidur isolasi telah ditempati oleh pasien Covid-19 dari kapasitas totalnya yang mencapai 70 ribu. Sehingga masih terdapat sekitar 40 ribu tempat tidur yang belum digunakan.

Sedangkan sebanyak 2.500 ICU juga telah digunakan saat ini dari total kapasitas yang mencapai 7.500 ICU. “Jadi kita juga masih punya room kosong sekitar dua kali lipat dari kondisi sekarang,” tambah Budi.

Meskipun demikian, Budi meminta pemerintah daerah agar memperhatikan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit di tiap-tiap daerah. Sebab, angka keterisian tempat tidur di sejumlah provinsi justru tercatat lebih tinggi.  

Sejumlah daerah yang memiliki angka keterisian tempat tidur tertinggi untuk kamar isolasi maupun ICU pasien Covid-19 yakni di Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Lampung, dan juga NTT. Karena itu, ia pun meminta pemimpin daerah di provinsi tersebut agar menjaga kenaikan kasus Covid-19 di wilayahnya.

“Jadi ini yang harus waspada dan hati-hati. Kita harus bersama-sama mengingatkan agar ini bisa kita jaga,” ucapnya.

Sementara itu untuk di Pulau Jawa mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah karena sempat mengalami lonjakan pada awal tahun ini. Menkes mencatat, sejumlah provinsi yang memiliki keterisian tempat tidur tertinggi yakni Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan juga Jawa Timur.

Tak hanya itu, Menkes juga memastikan ketersediaan obat-obatan untuk pasien Covid-19 di rumah sakit. Menurut dia, terdapat empat jenis obat yang digunakan untuk perawatan pasien Covid-19 sehingga harus dijaga ketersediaannya.

“Jadi kalau tiba-tiba naik 50 persen atau Pak Menko suka bilang ini kan naiknya antara 50 sampai 90 persen, kita tahu berapa stok obat yang kita miliki secara nasional. Kita masih lebih dari cukup dan kita bisa meredistribusikan obat-obat tersebut yang critical ke daerah-daerah yang kurang,” jelas Budi.

Budi mengamati, stok obat untuk Covid-19 masih kurang untuk daerah seperti Sumatra dan Kalimantan. “Kita masih punya waktu sebelum lebaran kita akan isi dengan ketersediaan obat,” tambah Menkes.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement