Kamis 16 Jul 2020 12:17 WIB

BNPB: PSBB Lebih Efektif di Desa Dibandingkan Perkotaan

Masyarakat di desa lebih patuh dan taat dalam menjalankan PSBB

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (8/7/2020). Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, jumlah kasus positif COVID-19 pada Rabu (8/7) meningkat 1.853 orang sehingga total kasus positif mencapai 68.079 orang, sedangkan jumlah pasien sembuh bertambah 800 orang menjadi 31.585 orang.
Foto: ANTARA /Indrianto Eko Suwarso
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (8/7/2020). Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, jumlah kasus positif COVID-19 pada Rabu (8/7) meningkat 1.853 orang sehingga total kasus positif mencapai 68.079 orang, sedangkan jumlah pasien sembuh bertambah 800 orang menjadi 31.585 orang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan desa-desa di berbagai daerah Tanah Air lebih berhasil dalam menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jika dibandingkan daerah perkotaan.

"PSBB yang terbaik itu adalah di desa," kata Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan melalui konferensi video yang di pantau di Jakarta, Kamis (16/7).

Keberhasilan penerapan PSBB di desa, ujar dia, dikarenakan masyarakat desa sudah bisa memantau orang yang betul-betul harus dipahami terkait antisipasi penyebaran virus corona atau COVID-19.

Selain itu, gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 menilai masyarakat di desa juga lebih patuh dan taat dalam menjalankan PSBB jika dibandingkan di daerah perkotaan.

Ia mengatakan selama empat bulan terakhir, pemerintah terus berupaya melakukan pencegahan penularan virus ke masyarakat. Pada awal-awal kejadian COVID-19, gugus tugas berusaha memahami kondisi di tengah masyarakat dan daerah dulu.

"Sekarang alhamdulillah tim pakar kita sudah bisa membuat empat zonasi yaitu merah, oranye, kuning dan hijau," ujarnya.

Kemudian, gugus tugas juga melihat pola kebiasaan masyarakat melalui penilaian mandiri. Penilaian itu di antaranya meliputi perilaku tiap-tiap individu apakah membuatnya mudah tertular atau tidak.

"Atau setelah dia tertular mudah menularkan pada orang lain. Pertanyaan-pertanyaan sederhana kita lakukan melalui aplikasi inaRISK personal," kata dia.

Langkah selanjutnya ialah melihat apakah anggota keluarga individu tersebut memiliki risiko tertular atau malah menularkan pada orang lain.

Terakhir, ia mengingatkan bahwa sampai sekarang ancaman virus corona tersebut masih ada. Oleh sebab itu, masyarakat diminta untuk tetap menjalankan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement