REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia dilanda serangkaian bencana hidrometeorologi dalam kurun waktu singkat, 31 Januari hingga 1 Februari 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, tanah longsor, cuaca ekstrem, banjir, abrasi pantai, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi hampir bersamaan di berbagai wilayah.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyatakan bahwa tim gabungan terus bekerja keras. “BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan penanganan darurat, pendataan, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak,” kata Abdul Muhari dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad (1/2/2026).
Di Jawa Barat, hujan durasi panjang memicu pergeseran tanah di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Akibatnya, 11 rumah rusak ringan dan 57 jiwa terdampak. BPBD setempat masih memantau kondisi tanah yang labil dan mengimbau warga untuk evakuasi mandiri jika hujan kembali mengguyur.
Sementara di Jawa Tengah, cuaca ekstrem menerjang tujuh desa di tiga kecamatan Kabupaten Klaten. Puluhan rumah serta fasilitas umum mengalami kerusakan ringan hingga sedang, ditambah akses jalan terganggu karena pohon tumbang.
Di wilayah timur, banjir melanda Desa Soagimalaha, Kecamatan Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Genangan merendam puluhan rumah, fasilitas ibadah, dan tempat pemakaman umum. Pada hari yang sama, abrasi pantai menghantam Desa Puao, Kecamatan Wasile Tengah, merusak talud penahan ombak, rumah warga, serta perahu nelayan.
Tak hanya bencana basah, karhutla juga dilaporkan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Api berhasil dipadamkan di hari yang sama dengan luas lahan terbakar sekitar satu hektare, tanpa korban jiwa.
“Menyikapi berbagai kejadian tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, terutama menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering,” ujarnya.
Abdul Muhari juga mengingatkan warga di wilayah rawan, khususnya bantaran sungai dan pesisir, untuk rutin memantau kondisi lingkungan, mengetahui jalur evakuasi, serta memperbarui informasi cuaca melalui sumber resmi.
Kejadian ini sejalan dengan prediksi BMKG yang masih memperingatkan potensi cuaca ekstrem hingga awal Februari, termasuk hujan lebat yang memicu bencana hidrometeorologi. BNPB sendiri telah memperpanjang operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah rawan seperti Jabodetabek.
Masyarakat diimbau tetap waspada dan proaktif, mengingat awal tahun ini banjir dan longsor masih mendominasi catatan bencana nasional.