Ahad 14 Jun 2020 21:33 WIB

Pramono Edhie, Kekuatan Mental, dan Doa Menuju Everest

Pramono Edhie pernah menjadi koordinator Tim Ekspedisi Pendakian Mount Everest.

Pramono Edhie Wibowo . (Republika/Edwin Dwi Putranto)
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Pramono Edhie Wibowo . (Republika/Edwin Dwi Putranto)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Priyantono Oemar

Pramono Edhie Wibowo meninggal dunia. Jenderal TNI Purnawirawan itu pernah menjadi koordinator umum Tim Ekspedisi Pendakian Mount Everest, oleh tim Kopassus pada 1997. Berikut cerita pendakian itu, yang pernah dimuat Republika edisi 9 April 2012, berdasarkan cerita dari Pramono Edhie dan Iwan Setiawan, perwira Kopassus yang mendaki Everest, yang disampaikan di Situ Lembang, Bandung Barat, Maret 2012:

Baca Juga

Pada 12 Maret 1997, tim Indonesia memulai pendakian Mount Everest. “Saat persiapan ekspedisi Mount Everest, kita bertemu dengan tim dari negara lain. Mereka tertawa melihat orang Indonesia akan naik Everest,” kenang Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo.

Pada saat itu, Pramono masih berpangkat letkol, menjadi koordinator umum tim ekspedisi. Hanya enam bulan waktu persiapan pendakian. Danjen Kopassus Jenderal Prabowo Subianto menyewa tiga pendaki Rusia sebagai pela tih: Anatoli Boukreev, Vladimir Bash kirov, dan Evgeni Vinogradski.

Boukreev mengatakan kepada Prabowo, perlu satu tahun latihan. Tapi, Prabowo tetap menegaskan cukup enam bulan, kendati menurut Boukreev peluang keberhasilan hanya 30 persen (satu orang yang mencapai puncak). Ada peluang 50 persen terjadi kecelakaan. Alasan Boukreev, kemampuan pendaki Indonesia tidak memadai.

Boukreev akhirnya bersedia menerima tawaran menjadi pelatih tim Indonesia, karena kagum pada mental tim Indonesia dan janji dia menguburkan secara layak rekannya yang mengalami kecelakaan pada 1996. Akibat ke celakaan itu, nama baik Boukreev tercoreng.

Setelah melakukan pelatihan, Lettu Iwan Setiawan, Pratu Mujiono, Sertu Misirin mendaki dari jalur selatan pada 12 Maret 1997. Ada 10 personel di tim selatan. Jalur utara dengan enam personel memulai pendakian pada 22 Maret dan anggota tim Serda Sumardi, Ogum Gunawan Ahmad, dan Praka Tarmudi hanya mencapai ketinggian 8.600 meter pada 8 Mei, lalu turun.

Sebagai koordinator umum ekspedisi, Pramono tak mau runtuh mental oleh ledekan tim pendaki dari negara lain. “Indonesia tak boleh kalah. Merah putih harus berkibar lebih dulu dari tim lain.” Pramono memantapkan tekad.

Meski peralatan seadanya, tekad sungguh luar biasa. Boukreev mengakui, mental yang luar biasa itu mengalahkan minimnya pengalaman mendaki para pendaki Indonesia ini. Dongkol karena ejekan tim negara lain diubah menjadi energi yang luar biasa.

Di saat persiapan akhir, perwira ekspedisi Monty Sorongan, di minta berbelanja peralataan ke Rusia dan Amerika. “Cari barang terbaik. Aku gak mau yang nomor dua,” pinta Pramono kepada Monty.

Sebagai koordinator umum, Pramono tak ikut melakukan pendakian. Maka itu, yang bisa ia lakukan adalah terus berdoa. Para calon pendaki pun selalu berdoa.

“Tiap mau makan, siap gerak, berdoa. Siap gerak, berdoa,” kata Pramono.

Sampai-sampai Boukreev bertanya, “Sedikit-sedikit kalian berdoa. Memangnya Tuhan kalian di mana?”

“Di atas,” jawab Pramono.

“Oh, kalau saya Tuhan, ya gunung itu,” sahut Boukreev.

Sebagai pendaki, Boukreev juga meninggal di gunung pada 25 Desember 1997. Bagi Pramono, doa adalah kekuatan yang akan menggerak kan hati karena Tuhanlah yang mempunyai segalanya. Selesai pelatihan, Pramono dipanggil Prabowo. “Edhie, aku mau tanya. Ceritakan apa yang telah kau lakukan.”

“Pasukan orang sudah siap. Peralatan siap. Waktu pendakian sudah dijadwal. Hanya satu hal yang belum pasti, alam punya Tuhan. Kalau badai datang, manusia tak bisa mencegah,” jawab Pramono.

“Lalu, apa maumu?”

“Semua yang ada di Indonesia mendoakan kami,” sahut Pramono. Maka, seluruh anggota Kopassus diwajibkan berdoa bersama sehabis shalat wajib lima waktu bagi yang muslim dan di setiap waktu bagi yang non-Muslim. Doa bersama belum berhenti sebelum pendakian tuntas.

Saat tim Indonesia hendak mulai pendakian, cuaca diprediksi buruk sehingga tim negara lain menunda pendakian. Tapi, prediksi cuaca tak terbukti. Asmujiono mencapai puncak dan mengibarkan merah putih. Misirin mencapai 16 meter sebelum puncak, dan Iwan 30 meter sebelum puncak.

Bukan pekerjaan mudah untuk sampai puncak. Menerjang salju menjelang puncak, tim melangkah perlahan. Sekali melangkah, satu menit istirahat. “Kedalaman salju sampai di atas lutut,” ujar Iwan Setiawan.

Maka itu, Misirin yang di posisi 16 meter di bawah puncak, paling tidak membutuhkan setengah jam untuk mencapai puncak. Iwan yang di posisi 30 meter di bawah puncak, tentu membutuhkan satu jam lagi untuk sampai puncak. Waktu sudah tak memungkinkan sehingga Boukreev memutuskan cukup Asmujiono yang mencapai puncak.

Tim kemudian turun. Sampai di bawah, cuaca yang tak favorit datang. Tim negara lain menunda pendakian sebulan. “Selama sebulan itu, merah putih berkibar di puncak Everest,” ujar Pramono.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement