Kamis 15 Aug 2019 11:45 WIB

649 Warga Sukawana Terdampak Abu Vulkanik Tangkuban Parahu

Empat blok perkebunan teh menjadi lokasi paling terdampak abu vulkanik.

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Reiny Dwinanda
 Di gerbang masuk Taman Wisata Alam (TWA), Gunung Tangkuban Perahu, warga di  Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat serta pedagang  menggelar zikir dan doa bersama, Senin (5/8).
Foto: Republika/M Fauzi Ridwan
Di gerbang masuk Taman Wisata Alam (TWA), Gunung Tangkuban Perahu, warga di Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat serta pedagang menggelar zikir dan doa bersama, Senin (5/8).

REPUBLIKA.CO.ID, PARONGPONG -- Sebanyak 649 jiwa di Kampung Sukawana, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat terkena dampak abu vulkanik erupsi Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Parahu. Meski begitu, belum ada laporan tentang kondisi kesehatan warga yang menurun.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, Dicky Maulana mengatakan warga di RW 12, Kampung Sukawana menjadi wilayah terdekat yang terkena dampak. Selain itu, blok 17, 19, 22, dan 23 perkebunan teh menjadi lokasi yang paling parah terkena sebaran abu.

Baca Juga

"Warga terdampak RW 12 sebanyak 649 orang. Paling terkena di RT 01, meski tidak parah, abu vulkanik masih ada di genting atap permukiman warga," ujarnya saat ditemui di Kampung Sukawana, Kamis (15/8).

Dicky mengatakan, empat blok perkebunan teh menjadi lokasi yang paling banyak abu vulkanik. Bahkan, pemetik yang mengambil teh di sana seluruh pakaiannya terpapar abu.

"Pemetik kalau pulang metik, penuh dengan abu," katanya.

Dicky mengatakan pihaknya berhadap tidak ada warga yang jatuh sakit akibat terkena paparan abu vulkanik. Menurutnya, abu vulkanik yang menyebar karena angin di wilayah perkebunan juga turut menyebabkan kendala bagi usaha peternakan.

"Selain perkebunan, (yang terganggu) juga peternakan. Biasanya, kemarau ke hutan mencari rumput. Sekarang hutannya penuh abu, terganggu mata pencaharian mereka," katanya.

Salah seorang warga, Aminah (62), mengatakan pascaerupsi Tangkuban Perahu, sebagian warga mengalami batuk dan pilek. Selain itu, masih sering tercium bau belerang yang berasal dari Kawah Ratu. Jalur yang sering dilalui wisatawan pun sepi pasca erupsi yang terjadi hingga kini.

"Warga ada yang pilek, batuk. Tapi aktivitas nggak keganggu," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement