Senin 24 Dec 2018 13:34 WIB

Indonesia Belum Miliki Detektor Tsunami Longsor Bawah Laut

Sistem peringatan dini akibat gempa telah berjalan baik.

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/ Red: Friska Yolanda
Gumpalan awan menyembur saat terjadi letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten, Senin (10/12/2018).
Foto: Antara/Weli Ayu Rejeki
Gumpalan awan menyembur saat terjadi letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten, Senin (10/12/2018).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tsunami yang melanda Pandeglang dan Lampung Selatan diduga disebabkan oleh erupsi gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan longsor di bawah laut. Sesaat setelah kejadian, sempat terdapat kesimpang-siuran informasi terkait penyebab bencana tsunami. Beberapa pihak sempat membantah bahwa gelombang yang menghantam barat Jawa dan selatan Sumatera merupakan tsunami.

Kepala Pusat data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, Indonesia belum memiliki sistem peringatan dini tsunami yang disebabkan longsor bawah laut dan erupsi gunung api. "Yang ada saat ini sistem peringatan dini yang dibangkitkan gempa. Sistem sudah berjalan baik. Kurang dari lima menit setelah gempa BMKG dapat memberitahukan ke publik," tulis Sutopo dalam akun Twitter miliknya.

Karena itu, lanjutnya, Indonesia harus membangun sistem peringatan dini yang dibangkitkan longsor bawah laut dan erupsi gunung api. Hal tersebut disebabkan karena bencana tsunami dari longsor laut bukan pertama kali terjadi.

"Adanya gempa menyebabkan longsor bawah laut lalu memicu tsunami di antaranya tsunami Maumere 1992 dan tsunami Palu 2018," ungkapnya.

Ia menyampaikan, terdapat 127 gunung api atau sekitar 13 persem populasi gunung api dunia ada di Indonesia. Beberapa di antaranya gunung api ada di laut dan pulau kecil yang dapat menyebabkan tsunami saat erupsi. 

"Tentu ini menjadi tantangan bagi PVMBG, BMKG, kementerian/lembaga dan perguruan tinggi membangun peringatan dini," tuturnya.

Baca juga, Gelombang Pasang dan Erupsi Anak Krakatau Penyebab Tsunami

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement