Kamis 15 Nov 2018 05:09 WIB

Misteri Senyapnya Pembantaian Sekeluarga di Bekasi

Ada dugaan korban mengenal pelaku pembunuhan.

Sejumlah Tim Puslabfor Polda Metro Jaya saat akan melakukan olah TKP kasus pembunuhan satu keluarga di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (13/11).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah Tim Puslabfor Polda Metro Jaya saat akan melakukan olah TKP kasus pembunuhan satu keluarga di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (13/11).

Oleh Dedy Darmawan Nasution

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Pembantaian satu keluarga di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, menimbulkan pertanyaan besar. Sebab, berdasarkan pengakuan warga setempat, tak ada keributan atau tanda-tanda peristiwa pembunuhan, meski rumah korban tepat berada di sisi jalan.

“Saya pulang kerja jam sembilan malam. Mulai tidur sekitar jam 10 malam. Sepanjang malam tidak ada suara berisik. Tiba-tiba pas pagi orang sudah ramai ada pembunuhan,” kata penghuni indekos yang dikelola korban, Fathoni (24 tahun), Rabu (14/11).

Empat orang korban ditemukan meninggal dunia, Selasa (13/11) pagi. Mereka terdiri dari suami, Diperum Nainggolan atau Gaban Nainggolan (38 tahun), istri, Maya Boru Ambarita (37), dan kedua anaknya Sarah Nainggolan (9), serta Arya Nainggolan (7).

Fathoni, yang menyewa kamar lantai satu, mengaku baru tinggal di tempat itu selama delapan bulan. Ia menjelaskan tak begitu kenal dengan Diperum. 

Fathoni mengaku hanya bertemu Diperum di warung ketika hendak membeli air atau pulsa. Saat Fatoni pulang ke kos pada Senin malam, ia pun melihat rumah Diperum sepi-sepi saja, tanpa seorang tamu, dan warung masih dibuka.

“Gonggongan anjing milik Pak Diperum juga tidak terdengar. Biasanya, siapapun yang masuk termasuk penghuni kost pasti digonggong,” tutur dia.

photo
Polisi melakukan penyisiran dengan anjing pelacak di sekitar lokasi perisitiwa pembunuhan satu keluarga, di kawasan Jatirahayu, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (13/11/2018). Dalam peristiwa tersebut satu keluarga yang terdiri empat orang tewas dengan luka di tubuhnya, motif penyebab masih dalam penyelid ikan pihak berwenang.

Salah satu Satpam penjaga sekolah di dekat rumah Diperum, Agus Amri, mengaku sempat melintasi rumah korban antara pukul 02.00-02.30 WIB. Namun, tak ada suara apapun dari dalam rumah. 

Selama ia berjaga, hingga pukul 02.30 WIB, tak ada mobil yang lewat, kecuali warga setempat yang sudah dikenai. Agus mengaku sangat akrab dengan keluarga Diperum karena sering berbelanja di warungnya. 

Diperum, kata Agus, sosok yang ramah kepada warga dan sering bercerita kepada dirinya jika memiliki masalah. Namun, tak ada masalah serius yang diceritakan Diperum kepada Agus sesaat sebelum pembantaiannya.

Di rumah yang ditempati keluarga ini, Diperum dan istrinya mengelola sebuah usaha rumah indekos yang merupakan milik Kakak Diperum bernama Douglas. Selain itu, Nainggolan menjalankan usaha warung sembako 'Sanjaya'.  

photo
Sejumlah Tim Puslabfor Polda Metro Jaya saat melakukan olah TKP kasus pembunuhan satu keluarga di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (13/11).

Berdasarkan pengamatan Republika, warung sembako itu menyatu dengan rumah korban. Antara warung dan jalan kompleks tidak dipisahkan oleh sebuah pagar. 

Rumah Nainggolan dan warung Sanjaya berlindung di balik sebuah rolling door. Dua langkah dari rolling door, langsung tepi Jalan Bojong Nangka II.  

Di sebelah kanan warung dan rumah dengan rolling door terdapat pintu masuk setinggi 1,75 meter ke arah indekos. Pintu ini menjadi akses utama menuju kamar-kamar kos yang berada di sebelah barat atau belakang rumah Diperum.

Kemudian, ada jalan yang bisa memuat satu unit mobil antara pintu hingga ke area indekos ini juga menjadi samping rumah. Sementara Rumah indekos itu berbentuk letter U terdiri dari dua lantai dengan 28 kamar.

Pintu dan jendela ruang tamu rumah Diperum berada di sebelah barat atau berhadapan dengan jalan masuk ke indekos. Di balik pintu dan jendela itu, Diperum bersama istrinya ditemukan bersimbah darah. 

Di atas pintu dan jendela itu pula, terdapat tujuh lubang ventilasi tanpa kawat nyamuk yang bisa menjadi sumber suara seluruh percakapan di dalam ruang tamu. Sedangkan kedua anak mereka, Sarah Boru Nainggolan dan Arya Nainggolan ditemukan tewas di dalam kamar dalam kondisi dibekap.

photo
Sejumlah Tim Puslabfor Polda Metro Jaya saat akan melakukan olah TKP kasus pembunuhan satu keluarga di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (13/11).

Ketua RT 02/07 di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Agus Sani mengatakan, dari 28 kamar kos, sebanyak 12 kamar telah diisi. Lebih rinci, delapan kamar di lantai dua dan empat kamar di lantai dasar.

Ia mengaku selalu mengingatkan Diperum agar rutin melapor seluruh penghuni kos yang ada. Sebagai ketua RT, Agus, menginginkan agar seluruh warga pendatang didata dengan baik untuk keamanan bersama. 

Namun, ia mengaku tak begitu mengetahui siapa-siapa penghuni kost disitu. Terkait pemilik indekos, Agus menilai, Douglas yang juga tinggal di salah satu kamar indekos itu kurang berkomunikasi dengan dirinya. 

“Yaa agak minim (komunikasi) juga sih. Tapi dia tetap warga saya dan saya berhak menanyakan apapun sebagai RT,” kata dia.

Agus pun menjelaskan, keluarga Diperum bukan warga yang tertutup karena selalu mengikuti kegiatan setempat. Misalnya, perkumpulan ibu-ibu PKK, arisan, hingga kegiatan di posyandu. Agus mengaku sangat terkejut, sebuah keluarga yang terlihat baik dan akrab justru dibunuh.

photo
Suasana warga saat melihat lokasi pembunuhan satu keluarga di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (13/11).

Polres Metropolitan Bekasi Kota bersama Polda Metro Jaya terus melakukan pendalaman terhadap kasus pembantaian satu keluarga di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, hingga Rabu (14/11) sore.

Wakil Kapolres Metropolitan Bekasi Kota AKBP Eka Mulyana mengatakan, polisi telah memeriksa sejumlah saksi, salah satunya Douglas yang hingga hari ini masih menjalani pemeriksaan. “Kami mohon diberikan waktu untuk kasus ini supaya semua menjadi terang,” katanya.

Ahli Psikologi Forensik dari Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian Reza Indragiri Amriel mengungkapkan, berdasarkan keterangan warga, barang-barang dalam keadaan utuh. Jendela dan pintu normal, tidak ada tanda-tanda pecah atau dibuka paksa. Karena itu, wajar saja jika ada dugaan pelaku dan korban saling kenal.

Pelaku datang, korban pun tak berprasangka buruk sehingga dengan mudahnya masuk. Atau, bisa saja pintu dalam kondisi tidak dalam keadaan tertutup karena korban sedang tertutup. Melihat kejadian yang kemungkinan terjadi dini hari, Reza menilai, kejahatan semacam itu pun bisa dilakukan oleh seorang yang non-profesional dalam pembunuhan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement