Selasa 26 May 2015 20:10 WIB

Ical dan Agung Diminta tak Keluarkan Pernyataan Kontraproduktif

Rep: c23/ Red: Esthi Maharani
Ketum Partai Golkar versi Munas Ancol Agung Laksono.
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Ketum Partai Golkar versi Munas Ancol Agung Laksono.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik dari Komite Pemilih Indonesia (TEPI) Jeirry Sumampow mengungkapkan Partai Golkar memang butuh figur-figur yang mampu memediasi kubu Aburizal Bakrie (Ical) dan kubu Agung Laksono. Hal ini karena keduanya sudah tidak saling dengar dan selalu menyatakan opini-opini kontra produktif.

Menurut Jeirry figur-figur tersebut di antaranya adalah Jusuf Kalla (JK) dan Akbar Tandjung. Keduanya, lanjut dia, selain telah menjadi politikus senior, juga pernah menjabat sebagai ketua umum Golkar. Mereka berdua juga dinilai mampu memediasi dan menyuarakan Munaslub untuk menyelamatkan Golkar.

"Jika kedua belah pihak telah sepakat menunjuk JK dan Akbar Tandjung untuk menjadi mediator hingga islah, maka opini-opini kontra-produktif yang dikeluarkan masing-masing kubu harus dihentikan," kata Jeirry pada Republika, Selasa (26/5).

Menurutnya, jika kubu Ical dan Agung masih mengeluarkan opini kontraproduktif, maka akan mengganggu mediasi yang dipercayakan pada JK dan Akbar Tandjung.

Bukan tak mungkin mediasi dua politisi senior Golkar berujung pada rekomendasi untuk menyelenggarakan musyawarah luar biasa agar kepengurusan baru terbentuk.

Menurutnya, perpecahan Golkar yang sudah akut hanya akan bisa diselamatkan dengan Munaslub.

"Kalau memang Munaslub menjadi jalan konstitusional agar Golkar bisa berdamai, maka Ical dan Agung harus menempuh jalur tersebut," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement