Senin 22 Aug 2011 11:03 WIB

Surat SBY Bukan Politik Pencitraan

Rep: c41/ Red: Stevy Maradona
Diserahkan oleh Ketua Tim Penjemput Nazaruddin, Brigjen Anas Yusuf (kanan)
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Diserahkan oleh Ketua Tim Penjemput Nazaruddin, Brigjen Anas Yusuf (kanan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Surat balasan Presiden SBY kepada mantan kadernya nyang kini ditahan KPK, M Nazaruddin dicibir beberapa kalangan sebagai upaya pencitraan. Tetapi Partai Demokrat, seperti yang dikatakan Sekretaris Dewan Kehormatan Amir Syamsuddin, surat SBY hanya mempertegas sikap partai yang membelit Nazar.

"Presiden ingin masyarakat tahu sikap atas kasus ini tidak berubah sejak awal, yaitu usut tuntas tanpa pandang bulu," ujar Amir kepada Republika, Senin (22/8). Presiden SBY, tambahnya, juga menginginkan proses penegakan hukum terhadap WNI dilakukan secara adil, bukan hanya terhadap mantan Bendahara Umum Demokrat itu.

Sejak surat balasan dikirimkan SBY melalui kurir diantarkan ke Rutan Mako Brimob, Depok, malam tadi, Amir sudah tahu akan banyak kritikan awal pekan ini. Tapi dirinya menyatakan bahwa sikap SBY yang terkesan mengistimewakan surat Nazar dengan membalas langsung bukan sebuah pencitraan, apalagi intervensi proses hukum yang sedang dilakukan KPK.

Nazar membacakan surat terbuka yang ditujukannya kepada SBY diluar Gedung KPK usai menjalani pemeriksaan pekan lalu. Kepada SBY, Nazar meminta SBy melindungi istri dan anaknya, dengan imbalan, dirinya tidak akan mengganggu Demokrat dan SBY dengan bersikap lupa atas semua tudingan yang selama ini dilontarkannya.

Berita Lainnya

Rekomendasi