Selasa 20 Jan 2026 17:04 WIB

Tolak Ditekan Trump dengan Tarif, Denmark: Greenland Bukan Barang Dagangan

Denmark meminta Trump memindahkan wacana Greenland dari medsos ke meja perundingan.

Orang-orang mengambil bagian dalam demonstrasi dengan slogan Greenland untuk Greenlanders di depan kedutaan AS di Kopenhagen, Denmark, pada 14 Januari 2026.
Foto: EPA/Thomas Traasdahl DENMARK OUT
Orang-orang mengambil bagian dalam demonstrasi dengan slogan Greenland untuk Greenlanders di depan kedutaan AS di Kopenhagen, Denmark, pada 14 Januari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, COPENHAGEN -- Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen, menegaskan, Presiden AS Donald Trump tidak akan bisa mendapatkan Greenland dengan menekan Denmark dan negara-negara Eropa. T Trump sebelumnya mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 10 persen mulai Februari terhadap Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia.

Tarif tersebut akan naik menjadi 25 persen dan tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan pembelian Greenland oleh Amerika Serikat.

Baca Juga

"Sangat penting bagi semua sekutu kami di NATO dan Uni Eropa... untuk menunjukkan kepada Presiden Amerika: Anda boleh punya keinginan, visi, dan permintaan, tetapi Anda tidak akan pernah bisa mencapainya dengan menekan kami," ujar Rasmussen kepada media Inggris Sky News pada Senin (19/1/2026).

Rasmussen meminta Trump memindahkan wacana Greenland dari media sosial ke meja perundingan, seraya menegaskan bahwa Denmark memiliki garis merah yang tidak boleh dilanggar.

"Kami bisa berdagang dengan orang lain, tetapi kami tidak bisa memperdagangkan manusia," kata Rasmussen mengenai pentingnya hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Greenland.

Greenland adalah bagian dari Kerajaan Denmark. Namun, Trump berkali-kali menyatakan bahwa pulau tersebut seharusnya menjadi bagian dari AS. Otoritas Denmark dan Greenland telah meminta AS untuk tidak merebut pulau itu dan menghormati integritas teritorial mereka.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

sumber : Antara, Sputnik/RIA Novosti
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement