Jumat 16 Jan 2026 10:05 WIB

Sumbar Alami Kerugian dan Kerusakan Rp 33,5 Triliun Akibat Bencana Alam

Dari total kerugian tersebut, sektor infrastruktur paling banyak terdampak.

Alat berat bekerja memindahkan material lumpur di aliran Sungai Batang Kuranji, Tabiang Banda Gadang, Nanggalo, Padang, Sumatera Barat, Kamis (8/1/2026). Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat proses normalisasi Batang Kuranji pascabencana dengan mencoba mengarahkan aliran sungai ke tengah sehingga sisi lainnya dapat ditangani, karena air sungai telah mengancam jalan dan permukiman.
Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Alat berat bekerja memindahkan material lumpur di aliran Sungai Batang Kuranji, Tabiang Banda Gadang, Nanggalo, Padang, Sumatera Barat, Kamis (8/1/2026). Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat proses normalisasi Batang Kuranji pascabencana dengan mencoba mengarahkan aliran sungai ke tengah sehingga sisi lainnya dapat ditangani, karena air sungai telah mengancam jalan dan permukiman.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) mencatat total kerugian dan kerusakan akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di akhir November 2025 mencapai Rp 33,5 triliun. Dari total kerugian tersebut, sektor infrastruktur paling banyak terdampak bencana dengan kerugian mencapai Rp 14,16 triliun.

"Total kerusakan yang tercatat mencapai Rp 15,63 triliun, sementara total kerugian Rp 17,91 triliun," kata Gubernur Sumbar Mahyeldi, di Kota Padang, Jumat (16/1/2026).

Baca Juga

Gubernur mengatakan, angka ini menunjukkan besarnya beban yang harus ditanggung, dan harus menjadi dasar penting bagi pemangku kepentingan dalam mengambil kebijakan terutama proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Ranah Minang. Di satu sisi, ujar gubernur, infrastruktur merupakan sektor yang paling terdampak dan memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas masyarakat.

Selain infrastruktur, pemerintah juga mencatat kerusakan pada sektor permukiman juga tergolong besar yakni mencapai Rp 1,45 triliun. "Angka ini menggambarkan dampak langsung yang dirasakan masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka," kata eks wali Kota Padang tersebut.

Selanjutnya, sektor ekonomi menunjukkan kerusakan sebesar Rp 813 miliar dengan kerugian Rp 1,46 triliun yang berdampak terganggunya aktivitas ekonomi, dan mata pencaharian masyarakat. Di sektor sosial, kerusakan tercatat Rp 347 miliar dan kerugian Rp 255 miliar.

Dari 16 kabupaten dan kota yang terdampak bencana, kerusakan dan kerugian paling besar dialami Kabupaten Agam dengan total Rp 10,49 triliun, disusul Kabupaten Padang Pariaman Rp 5,48 triliun, dan Kota Padang sebesar Rp 4,88 triliun. Selain itu, ujar dia, kabupaten lainnya juga mengalami kerugian dan kerusakan yang cukup besar seperti Kabupaten Solok Rp 3,09 triliun, Kabupaten Tanah Datar Rp 2,94 triliun, serta Kabupaten Pesisir Selatan Rp 1,56 triliun.

"Angka-angka ini menjadi potret nyata besarnya upaya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memulihkan kondisi di berbagai sektor," ujarnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement