REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengkritisi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengeluarkan peraturan mengenai Pencegahan Anak Putus Sekolah. Salah satu isi aturan itu membuat satu kelas bisa diisi oleh 50 siswa.
Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri mengatakan, P2G memahami itikad baik Gubernur dalam upaya mengurangi anak putus sekolah di Jabar. Namun niat baik tersebut akan berdampak negatif serta kontraproduktif bagi guru dan siswa, baik dari aspek pedagogis, psikologis, maupun sosial.
"Jika yang diharapkan Gubernur Jabar adalah 50 anak tiap kelas, ini sangat tidak efektif, akan berpotensi mengganggu proses dan kualitas pembelajaran di kelas," kata Iman kepada Republika, Rabu (16/7/2025).
Iman menyentil aturan semacam itu malah membuat kelas layaknua penjara. Ini mengingat kapasitas ruang kelas sebenarnya didesain tak memadai hingga 50 orang.
"Kelas akan terasa sumpek, seperti penjara, mengingat luas ruang kelas SMA/SMK itu hanya muat maksimal 36 murid saja," ujar Iman.
Iman mengungkap beberapa risiko yang akan dihadapi seperti kelas jadi pengap, suara guru tidak terdengar apalagi jika siswa berisik, kelas tidak kondusif, ruang gerak anak dan guru tidak ada, interaksi murid di kelas sangat terbatas.
"Sarana prasarana tidak mencukupi, dan guru tidak bisa mengkontrol kelas," lanjut Iman.
View this post on InstagramBaca Juga
Berita TerkaitBerita LainnyaTerpopulerRekomendasi
Ahad , 27 Sep 2026, 06:50 WIB![]()
Kiandra Ramadhipa Start dari Posisi Kelima di Moto3 Junior Aragon, Bidik Berdiri di Podium
Ahad , 27 Sep 2026, 06:34 WIBFIFA ASEAN Cup 2026: Thailand dan Vietnam Buka Kiprah dengan Kemenangan
Ahad , 27 Sep 2026, 06:15 WIBJadwal Asian Games 2026 Hari Ini: Sejumlah Atlet Indonesia Berburu Medali
Ahad , 27 Sep 2026, 06:11 WIBGuruh Soekarnoputra: Taksu Nusantara, Penerjemah Pancasila dalam Bahasa Keindahan
Ahad , 27 Sep 2026, 06:02 WIBWamenpora Taufik Hidayat Optimistis Indonesia Capai Target Medali di Asian Games 2026




