REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ancaman Presiden Amerika Donald Trump akan membombardir Iran disorot dunia. China menyayangkan adanya pernyataan semacam itu. Sementara Rusia berpendapat, kalau Amerika melakukan itu, maka harus dipahami, dampaknya akan meluas ke negara lain.
Moskow telah memperingatkan akan adanya ancaman terhadap infrastruktur nuklir Iran, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengebom Iran jika tidak mencapai kesepakatan.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengkritik ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Iran, dan memperingatkan bahwa eskalasi militer akan menjadi "bencana besar bagi seluruh kawasan."
Diplomat yang bertanggung jawab atas urusan keamanan strategis di kementerian tersebut mengatakan, "Rusia menentang solusi koersif, menentang agresi, dan menentang serangan."
Ia menambahkan bahwa negaranya "mengecam ancaman-ancaman Amerika terhadap Iran... dan kami menganggapnya sebagai cara untuk memaksakan kehendak Washington terhadap pihak Iran." Ia memperingatkan bahwa eskalasi situasi akan "memperburuk kompleksitas situasi dan memiliki dampak yang, secara keseluruhan, akan memerlukan upaya yang jauh lebih besar di masa mendatang untuk mengurangi risiko titik api baru dan konflik terbuka di Timur Tengah, di mana situasi telah mencapai puncaknya."
Diplomat itu menekankan bahwa serangan terhadap infrastruktur nuklir dapat menimbulkan bencana bagi seluruh kawasan.
Pada tanggal 21 Maret, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyerukan penyelesaian masalah program nuklir Iran melalui "solusi damai saja," dengan mencatat bahwa Iran "telah berulang kali berjanji tidak akan mengembangkan senjata nuklir."
Sebelumnya, Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeed Iravani, mengirim surat kepada Dewan Keamanan PBB, mendesaknya untuk mengutuk ancaman Trump terhadap Teheran. Iran mengancam akan menyerang Diego Garcia sebagai tanggapan atas potensi serangan AS.
Laporan pers menunjukkan bahwa angkatan bersenjata Iran telah mempersiapkan pasukan rudal mereka untuk menembaki sasaran Amerika di Timur Tengah jika ada ancaman militer.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook