Rabu 02 Apr 2025 06:14 WIB

China Gelar Latihan Gabungan Besar-besaran: Masalah Taiwan Urusan Internal!

Latihan gabungan sebagai peringatan pasukan 'separatis Taiwan' yang didukung AS.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Foto: MoFA China
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China menyampaikan, latihan gabungan Komando Palagan Timur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) di sekitar Pulau Taiwan menunjukkan peringatan serius terhadap pihak yang mendukung "kemerdekaan Taiwan". Komando Palagan Timur PLA mulai melakukan latihan gabungan pada Selasa (1/4/2025), mengorganisasikan angkatan darat, laut, udara dan roket untuk mendekati Pulau Taiwan dari berbagai arah.

"Latihan tersebut merupakan peringatan serius dan tindakan penahanan terhadap pasukan separatis 'kemerdekaan Taiwan' dan langkah yang sah dan perlu untuk mempertahankan kedaulatan dan persatuan nasional karena Taiwan adalah bagian yang tidak dapat dicabut dari wilayah China," kata Juru Bicara Kemenlu China, Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa.

Baca Juga

Juru Bicara Komando Palagan Timur PLA Kolonel Senior Shi Yi mengatakan, latihan gabungan tersebut berfokus pada patroli kesiapan tempur laut-udara, perebutan keunggulan komprehensif, dan penyerangan presisi terhadap target maritim dan darat. Selain itu, latihan juga melakukan simulasi blokade di area utama dan jalur laut untuk menguji kemampuan operasi gabungan pasukan.

"Masalah Taiwan murni urusan internal China yang tidak menoleransi campur tangan eksternal. Partai Progresif Demokratik (DPP) bersikeras untuk mengupayakan 'kemerdekaan Taiwan' dan berupaya untuk meminta dukungan eksternal untuk agenda tersebut dan memecah belah negara. Upaya tersebut sia-sia dan pasti akan gagal," tegas Guo Jiakun.

Dari laporan media pemerintah China, disebutkan Komando Palagan Timur PLA mengatur formasi kapal dan pesawatnya, berkoordinasi dengan pasukan rudal konvensional dan sistem peluncur roket jarak jauh untuk melakukan latihan penyergapan udara. Selain itu, juga melakukan penyerangan terhadap target maritim, serangan terhadap objek darat, dan blokade dan kendali bersama yang ada di perairan di utara, selatan, dan timur Pulau Taiwan.

Shi Yi menyebutkan, latihan gabungan itu sebagai peringatan dan pencegahan keras terhadap pasukan separatis "kemerdekaan Taiwan" dan menjadi tindakan yang sah dan perlu untuk menjaga kedaulatan dan persatuan nasional China. Tidak ada nama sandi yang diumumkan untuk latihan gabungan tersebut, berbeda dengan latihan gabungan Komando Palagan Timur PLA pada Mei dan Oktober 2024 yang menggunakan kata sandi "Joint Sword-2024A" dan "Joint Sword-2024B".

Latihan militer tersebut dilakukan setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Tokyo, Jepang pada Ahad (30/3/2025) mengatakan, AS akan memastikan "penggentaran yang kredibel" di Selat Taiwan. Hegseth juga mengkritik China dan mengatakan, Jepang "sangat diperlukan" untuk mengatasi agresi China.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement