REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Turnameng bulu tangkis tertua dan bergengsi dunia, All England, tak lama lagi bergulir. All England 2025 akan digelar pada 11-16 Maret di Utilita Arena, Birmingham, Inggris. Para pebulu tangkis terbaik dunia akan memperebutkan total hadiah 1,45 juta dolar AS atau setara Rp 23,6 miliar.
Menuju turnamen ini, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pelatnas PBSI Eng Hian berharap seluruh pemain yang diturunkan menunjukkan kualitas mereka untuk mencapai prestasi terbaik. Beban ada di pundak Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang berstatus juara bertahan. Terlebih Fajar/Rian merupakan juara dua tahun berturut-turut.
Sementara di tunggal putra, terjadi all Indonesian final yang mempertemukan Jojo dan Anthony Sinisuka Ginting pada partai final.
“Tidak hanya kepada Jojo dan Fajar/Rian, kami berharap semua elite players Indonesia dapat menunjukkan kualitas permainan dan prestasi tertinggi. Di sektor putri, selain Grego kami berharap Putri KW (Kusuma Wardani) bisa mencapai prestasi yang optimal,” ujar Eng Hian dalam keterangan media PBSI, Kamis (27/2/2025).
Eng Hian menjelaskan bahwa hasil tes fisik atlet yang akan ikut All England sebagian besar sudah masuk dalam parameter yang ditentukan. Untuk sebagian kecil yang belum, akan dikejar melalui program khusus yang dirancang oleh pelatih fisik dan tim pendukung.
Pemain lain yang menjadi sorotan adalah Gregoria Mariska Tunjung. Grego baru menikah dengan Mikha Angelo, tapi menunda bulan madu karena ingin berlaga di All England. Grego bersyukur Mikha sangat mengerti kondisinya sebagai atlet nasional.
“Mikha sangat mengerti aku. Sejak awal kami sudah ngomong, kondisi-kondisi aku sebagai atlet nasional bagaimana. Ada pertandingan-pertandingan yang harus aku ikuti yang jadwalnya mungkin harus mengorbankan agenda-agenda pribadi,” ujar peraih medali perunggu tunggal putri Olimpiade Paris 2024 ini.
Eng Hian mengatakan, persiapan Grego ke All England berjalan normal, sesuai komitmen yang sudah disampaikan ke pelatih.
All England merupakan salah satu turnamen bulu tangkis prestisius di dunia karena sudah berusia 126 tahun. All England pertama kali digelar pada 1899 dan sempat berhenti dua kali ketika terjadi Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
Sejak 2018, turnamen dengan nama lengkap All England Open Badminton Championships ini ditetapkan menjadi Super 1000 dalam sistem BWF bersama China Open, Malaysia Open, dan Indonesia Open. Lokasi turnamen ini pindah dari London ke Birmingham pada 1994.
Atlet Indonesia yang pertama kali memenangkan juara All England adalah Tan Joe Hok di sektor tunggal putra pada 1959. Rekor juara dari Indonesia di turnamen ini dipegang Rudy Hartono yang memenangkan juara tunggal putra sebanyak delapan kali, dengan tujuh kali di antaranya dimenangkan secara bertutur-turut. Rudy menjadi juara pada 1968-1974 dan 1976. Juara dari Indonesia terbanyak selanjutnya adalah pasangan ganda putra Indonesia Tjun Tjun/Johan Wahjudi yang mengangkat piala sebanyak enam kali, yakni pada 1974-1975 dan 1977-1980.