Rabu 24 Jan 2024 14:51 WIB

Siaga Darurat Marapi Diperpanjang Selama Satu Bulan

Tim siaga Marapi akan melakukan berbagai langkah mitigasi bencana.

Gunung Marapi memuntahkan material vulkanik dari kawahnya saat terjadi letusan di Agam, Sumatera Barat, Indonesia, Ahad, 14 Januari 2024.
Foto: AP Photo/Givo Alputra
Gunung Marapi memuntahkan material vulkanik dari kawahnya saat terjadi letusan di Agam, Sumatera Barat, Indonesia, Ahad, 14 Januari 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, BUKITTINGGI -- Status siaga darurat gunung Marapi di Sumatra Barat (Sumbar) diperpanjang untuk satu bulan ke depan. Ini berdasarkan keputusan rapat evaluasi lintas sektoral Pemerintah Kabupaten Agam, TNI-Polri dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rabu (24/1/2024).

"Setelah mendengarkan penjelasan PVMBG dan hasil evaluasi bersama TNI-Polri dan tim siaga Marapi lainnya, ditetapkan perpanjangan status siaga darurat mulai Kamis (25/1/2024) hingga 25 Februari 2024," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam Bambang Warsito di Bukittinggi, Rabu.

Baca Juga

Ia mengatakan rapat evaluasi diadakan di markas Kodim 0304 Agam di Kota Bukittinggi dengan materi kondisi terkini gunung Marapi yang masih mengalami erupsi hingga saat ini.

"Status siaga darurat ini menjadi yang kedua setelah penetapan awal siaga darurat 10 Januari hingga 24 Januari yang berakhir hari ini," kata Bambang.

Ia menyebutkan tim siaga Marapi akan melakukan berbagai langkah mitigasi bencana, termasuk pelebaran jalan di jalur evakuasi.

"Pelebaran jalan segera dilakukan dengan tahapan awal kesepakatan warga daerah setempat, khususnya di Desa Bukit Batabuah. Ada 12 titik yang direncanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk," kata Bambang.

Selain itu, pemkab setempat berupaya membuat penahan hulu sungai dari puncak gunung Marapi dan normalisasi aliran air ke pemukiman warga.

"Pemasangan sabo atau penahan itu sudah dikoordinasikan dengan Provinsi Sumbar," kata dia.

Untuk warga setempat, BPBD terus menggiatkan sosialisasi pemakaian masker dan upaya simulasi di sekolah-sekolah dan pemukiman warga yang berada di sekitar radius 4,5 kilometer.

"Sosialisasi membiasakan masyarakat berisiko terkena dampak erupsi dengan selalu memakai masker, khususnya anak sekolah. Selain itu, program trauma healing terus digiatkan," sebutnya.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement