Selasa 02 Jan 2024 13:57 WIB

Hotel di DIY Penuh, Kos-Kosan Akhirnya Jadi Pilihan Wisatawan

Deddy menyebut perlunya penambahan kamar hotel untuk mengantisipasi lonjakan wisata.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Agus raharjo
Wisatawan menghabiskan waktu senja saat libur Nataru 2023 di jalur pedesterian Malioboro, Yogyakarta, Ahad (24/12/2023. Menurut survei Kementerian Perhubungan bahwa akan ada pergerakan 9,6 juta wisatawan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta saat libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2024. Salah satu tempat wisata yang masih menjadi favorit yakni Tugu Pal Putih, Malioboro, dan Keraton Yogyakarta (Gumaton).
Foto: Republika/ Wihdan Hidayat
Wisatawan menghabiskan waktu senja saat libur Nataru 2023 di jalur pedesterian Malioboro, Yogyakarta, Ahad (24/12/2023. Menurut survei Kementerian Perhubungan bahwa akan ada pergerakan 9,6 juta wisatawan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta saat libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2024. Salah satu tempat wisata yang masih menjadi favorit yakni Tugu Pal Putih, Malioboro, dan Keraton Yogyakarta (Gumaton).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Perhimpunan Hotel dan Resto Indonesia (PHRI) DIY mengatakan bahwa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024 merupakan momen peningkatan sektor pariwisata di DIY. Hal ini mengingat lonjakan wisatawan yang tinggi pada libur Nataru tahun ini.

Ketua DPD PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan pemilik kos-kosan bahkan menyewakan kamarnya untuk wisatawan khususnya pada Tahun Baru. Hal ini mengingat masih banyak wisatawan yang tidak mendapatkan kamar hotel.

Baca Juga

Dijelaskan Deddy bahwa okupansi atau tingkat hunian hotel rata-rata mencapai 98 persen di DIY. Bahkan, okupansi sejumlah hotel sudah mencapai 100 persen.

Okupansi yang tinggi didominasi di hotel yang berada di kawasan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Penuhnya kamar hotel mengakibatkan ada wisatawan yang tidak mendapatkan kamar, sehingga menyewa kos-kosan.

"Tahun ini bahkan karena kesulitan kamar, kemudian orang-orang kos menyewakan kamar kosnya untuk wisatawan. kemudian kos-kosan yang biasanya untuk bulanan itu dijadikan untuk wisatawan (yang disewa harian)," kata Deddy kepada Republika.co.id, Selasa (2/12/2023).

Melihat kondisi ini, jumlah kamar hotel yang ada belum dapat menampung lonjakan wisatawan yang masuk ke DIY selama Nataru. Meski begitu, Deddy tidak menyebut secara eksplisit bahwa hotel yang ada belum mencukupi ketika terjadi peningkatan kunjungan wisatawan ke DIY.

Disebutkan Deddy bahwa jumlah kamar hotel di bawah naungan PHRI DIY mencapai lebih dari 18 ribu kamar. Menurut Deddy, disewakannya kos-kosan dapat menjadi peringatan bagi pemerintah.

Sebab, dengan disewakannya kos-kosan kepada wisatawan ini menjadikan daerah akan kehilangan pendapatan asli daerahnya (PAD) sendiri.

"Kita minta pemerintah untuk juga memperhatikan tentang kos-kosan dan pengawasan, karena itu kebocoran PAD. Jangan yang dikejar itu anggota kami, tapi mereka-mereka yang justru memanfaatkan momen ini untuk itu, harus ada regulasi yang jelas," ujar Deddy.

Untuk itu, Deddy menyebut bahwa perlunya penambahan kamar hotel untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan ke depannya di DIY. Hal ini mengingat DIY merupakan salah satu tujuan wisata yang besar di Indonesia.

"Karena daya tarik wisata kemarin kan disurvei juga bahwa Yogya (DIY) menjadi unggulan dan pilihan pertama untuk berwisata. Selain itu, daya tariknya kita punya alam, punya budaya, punya seni, dan juga punya sejarah, pendidikan, dan lain-lain," ungkap Deddy.

Meski begitu, penambahan kamar hotel perlu dilakukan di tiga kabupaten lainnya di DIY, yakni Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Dengan begitu, hotel yang ada tidak hanya berpusat di kawasan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

"Penambahan kamar perlu, tapi di tiga kabupaten itu yang menjadi skala prioritas untuk antisipasi (lonjakan wisatawan) ke depan," katanya menegaskan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement