Selasa 02 Jan 2024 09:07 WIB

BMKG: Awal 2024 Potensi Hujan Meningkat di Wilayah Ini

Masyarakat dapat memanfaatkan hujan untuk mengisi penampungan air.

Cuaca Ekstrem/Ilustrasi
Foto: bmkg.go.id
Cuaca Ekstrem/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM--Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan potensi hujan di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) meningkat pada awal 2024. Sehingga, warga diharapkan tetap waspada bencana hidrometeorologi.

"Tetap waspada bencana hidrometeorologi, karena terdapat potensi peningkatan curah hujan di awal tahun ini," kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara NTB Yuhanna Maurits di Mataram, Selasa (2/2/2024).

Baca Juga

Sebagian wilayah NTB terpantau telah memasuki musim hujan 2023/2024 dan sebagian masih berada pada masa peralihan. Sehingga masyarakat perlu mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat disertai angin kencang yang dapat terjadi secara tiba–tiba dan bersifat lokal, banjir, dan tanah longsor.

"Selain itu masyarakat dapat memanfaatkan hujan yang turun untuk mengisi penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya," kata Yuhana.

BMKG menyatakan hasil monitoring menunjukkan indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) terpantau berada pada kondisi sedang, sudah berlangsung selama 22 dasarian. Sedangkan kondisi IOD (Indian Ocean Dipole) positif diprediksi menuju netral setidaknya hingga pertengahan tahun 2024.

Sementara untuk El Nino diprediksi terus bertahan pada level sedang hingga awal tahun 2024. Aliran massa udara di wilayah Indonesia didominasi oleh angin baratan, namun angin timuran masih terlihat di sebagian kecil Indonesia bagian utara.

Belokan angin terjadi di Sumatra bagian tengah, Kalimantan Utara, dan Sulawesi bagian utara. Sistem tekanan rendah terjadi di Laut Natuna Utara. Sedangkan sistem tekanan rendah diprediksi terjadi di Laut Natuna Utara.

Analisis pada dasarian II Desember 2023 menunjukkan MJO (Madden Julian Oscillation ) aktif di fase 6 dan 7 dan diprediksi aktif menuju fase 1 dan 2 hingga awal dasarian I Januari 2024.

"MJO berkaitan dengan aktivitas konveksi/potensi awan hujan di wilayah Indonesia," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement