Jumat 22 Dec 2023 21:11 WIB

Menaker Ungkap Penyebab Tingginya Pengangguran dari Lulusan SMA/SMK

Tingkat pengangguran terbuka didominasi lulusan SMA dan SMK di angka 17,6 persen.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Andri Saubani
Menteri Ida Fauziyah.
Foto: Dok Republika
Menteri Ida Fauziyah.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah mengungkapkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) masih didominasi lulusan SMA dan SMK dengan persentase 17,46 persen. Kemudian, di posisi kedua ada lulusan sarjana dan diploma yang menyumbang tingkat pengangguran sebesar 10,07 persen.

Ida menjelaskan, tidak adanya link and match menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat pengangguran dari lulusan SMA, SMK, diploma, maupun sarjana. Ida menyatakan, fakta tersebut menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama.

Baca Juga

"Ini tantangan terutama bagi pendidikan vokasi karena SMK termasuk tinggi sumbangannya terhadap pengangguran kita," kata Ida dalam acara Menaker Talks dengan tema 'Building Work Ethics & Creative Mondset' di kampus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Jumat (22/12/2023).

Ida melanjutkan, lulusan SD dan SMP lebih mudah diserap dunia kerja. Itu tak lain karena lulusan SD maupun SMP tidak pernah pilih-pilih dalam bekerja. Bahkan tanpa kompetensi pun, mereka tetap bisa diserap dunia kerja.

"Karena mereka bekerja pada lapangan pekerjaan yang sesuai kompetensinya. Bahkan tidak perlu kompetensi, karena merasa pendidikannya SMP dan SD, maka mereka menerima segala macam pekerjaan," ujarnya.

Sebaliknya, lanjut Ida, para lulusan SMA, SMK, diploma, dan sarjana yang merasa dirinya berpendidikan tinggi, cenderung untuk memilih-milih pekerjaan. Kendati pun ada lapangan kerja yang cocok, namun mereka tidak memiliki skill dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. 

"Kondisi seperti ini menjadi tantangan karena tahun 2030 kita punya bonus demografi. Bisa dibayangkan jumlah penduduk usia produktif banyak, tapi akan menjadi 'madhorot' bagi bangsa ini jika tidak mampu menyiapkan lapangan pekerjaan bagi mereka," ucap Ida.

Ida menilai terciptanya link and match antara pencari dengan menyedia kerja tidak hanya tugas atau pekerjaan dari pemerintah pusat atau daerah saja. Menurutnya, pihak swasta juga harus terlibat untuk menyelesainya masalah tersebut.

"Swasta yang tahu pasar kerjanya, berkolaborasi dengan pendidikan dan pelatihan vokasi agar menyiapkan skill dan kompetensinya. Kalau sudah seperti ini maka terjadilah link and match sehingga kita bisa terus menekan tingkat pengangguran terbuka," kata Ida. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement