Ahad 10 Dec 2023 15:31 WIB

Survei LSI: Ganjar-Mahfud Dinilai Paling Berpotensi Melakukan Kecurangan

Sebesar 50,2 persen masyarakat meyakini potensi terjadinya kecurangan Pemilu 2024.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Erik Purnama Putra
Capres Ganjar Pranowo dan cawapres Mahfud MD menghadiri acara Dialog Terbuka Muhammadiyah bersama Capres-Cawapres di Auditorium KH Ahmad Azhar, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kamis (23/11/2023).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Capres Ganjar Pranowo dan cawapres Mahfud MD menghadiri acara Dialog Terbuka Muhammadiyah bersama Capres-Cawapres di Auditorium KH Ahmad Azhar, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kamis (23/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengungkapkan hasil survei terbarunya terkait potensi kecurangan pemilu di 2024. Dari hasil survei yang dilakukan pada 3-5 Desember 2023 dengan melibatkan 1.426 responden menunjukan, mayoritas masyarakat atau sebesar 50,2 persen yakin potensi terjadinya kecurangan pada Pemilu 2024 sangat besar.

"Mayoritas menyatakannya sangat besar atau cukup besar kemungkinan terjadi kecurangan," kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Djayadi Hanan, dalam rilis survei terbarunya bertajuk 'Debat Capres, Netralitas Pemilu, dan Elektabilitas' di Jakarta, Ahad (10/12/2023).

Baca Juga

Sementara sebanyak 19,7 persen responden menilai kecil terjadi kecurangan dalam pemilu. Djayadi menjelaskan, ada tiga pihak yang paling potensial melakukan kecurangan pemilu, yakni partai politik sebesar 17,1 persen, tim sukses capres dan cawapres sebesar 15,9 persen, serta penyelenggara pemilu sebesar 13,6 persen.

Sedangkan potensi kecurangan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dinilai hanya sebesar 2,3 persen dan yang dilakukan oleh calon presiden atau wakil presiden sebesar 4,2 persen. Pihak lainnya yang potensial melakukan kecurangan yakni pemerintah daerah yang sebesar empat persen dan pemerintah pusat sebesar 2,9 persen.

 

Responden juga ditanya terkait pasangan mana yang paling potensial melakukan kecurangan. Hasilnya adalah mayoritas responden yakni 59,6 persen tidak menjawab.

Untuk pasangan Ganjar-Mahfud dinilai paling berpotensi melakukan kecurangan, yakni sebesar 20,6 persen. Kemudian, diikuti pasangan Prabowo-Gibran sebesar 14,4 persen dan pasangan Anies-Cak Imin sebesar 5,4 persen.

"Menurut masyarakat (potensi kecurangan) terjadi di pasangan Ganjar-Mahfud, kedua Prabowo-Gibran, sedikit sekali kemungkinan Anies-Muhaimin melakukan curang," ujar Djayadi.

Lebih lanjut, menurut Djayadi, mayoritas basis pemilih Prabowo dan Ganjar menilai presiden dan aparat negara masih netral dalam pemilu. Sedangkan, menurut basis pemilih Anies, cenderung menganggap Presiden dan aparat negara tidak netral.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement