Rabu 15 Nov 2023 16:38 WIB

PSI Dinilai Sulit Raih Suara di Sumbar, Ini Alasannya

Pengamat politik Unand menilai PSI akan sulit meraih suara di Sumbar.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Bilal Ramadhan
Bendera Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pengamat politik Unand menilai PSI akan sulit meraih suara di Sumbar.
Foto: @GeiszChalifah
Bendera Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pengamat politik Unand menilai PSI akan sulit meraih suara di Sumbar.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Pengamat Politik dari Universitas Andalas (Unand), Asrinaldi, menilai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan berat meraih suara di Sumatera Barat (Sumbar) pada Pemilu 2024. Terlebih untuk mengambil suara pemilih dari generasi Z dan milenial. Asrinaldi melihat tidak ada role model sosok anak muda menjadi salah satu faktor sulitnya PSI meraih suara di Sumbar. Meskipun PSI dinahkodai Kaesang Pangarep sebagai ketua umum. 

“Sosok anak muda di PSI (pusat) tidak pengaruh bagi daerah, berbeda. Kalau dilihat potensi di Sumbar ini sebenarnya ada. Tapi kan cuma kita tahu anak-anak muda ini harus ada patronnya bisa membawa dirinya sehingga diikuti anak muda. Nah di Sumbar itu yang tidak punya,” kata Asrinaldi, Rabu (15/11/2023). 

Baca Juga

Menurut Asrinaldi, PSI Sumbar terpaksa harus bekerja keras pada pemilu 2024 ini untuk menyakini dan dapat meraih suara dari anak muda. Bahkan calon legislatif dari PSI banyak yang tidak femiliar.

“Artinya anak muda yang menjadi role model untuk mereka ikuti sebagai orang yang bisa mebobilisasi suara PSI tidak ada saya lihat. Ini pekerjaan besar PSI sendiri. Kalau di nasional okelah ada Kaesang. Di Sumbar siapa role modelnya? Kalau pun ada (anak muda) malah di partai lain,” ucap Asrinaldi.

Pada Pemilu 2019 lalu, PSI hanya meraih 38.373 suara atau 1,41 persen. Artinya PSI gagal meraih kursi parlemen baik itu tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota.

Asrinaldi memprediksi di bawah kepemimpinan Kaesang, suara PSI di Sumbar tidak akan jauh berbeda. Selain karena tidak ada role model, pemilih di Sumbar rata-rata adalah pemilih yang tidak mengapresiasi kinerja Presiden Jokowi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement