Sabtu 28 Oct 2023 10:13 WIB

Keluarga Jadi Fondasi Utama Kemajuan Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045

Pembangunan keluarga diwujudkan dengan kehidupan yang sehat dan berkualitas.

Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr dr Hasto Wardoyo, saat menjadi pembicara dalam kegiatan Konsolidasi Nasional Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) yang digelar di Asrama Haji, Jakarta Timur.
Foto: Dok. BKKBN
Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr dr Hasto Wardoyo, saat menjadi pembicara dalam kegiatan Konsolidasi Nasional Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) yang digelar di Asrama Haji, Jakarta Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr dr Hasto Wardoyo, SpOG(K), menyoroti tingginya angka perceraian di Indonesia. Menurutnya, penyebab utama tingginya angka perceraian karena toxic people.

Hasto mengatakan bahwa sejak 2015 angka perceraian meningkat pesat. Pada tahun 2021 jumlahnya mencapai 581 ribu keluarga yang bercerai, sedangkan jumlah pernikahan setahun 1,9 juta. 

Baca Juga

"Saat ini, (angka) perceraian tinggi karena banyak keluarga keluarga asalnya adalah orang toxic bertemu orang waras, orang waras bertemu orang toxic atau orang toxic bertemu orang toxic akhirnya kelahi terus dan terjadilah perceraian,” kata Hasto, dalam kegiatan Konsolidasi Nasional Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) yang digelar di Asrama Haji, Jakarta Timur pada Jumat (27/10/2023).

Hasto mengatakan bahwa mendidik keluarga cukup dengan asah, asih dan asuh. "Asah diajari ilmu agama yg baik, asih dikasihani dengan sebaik baiknya, asuh diimunisasi kemudian diberikan perlindungan yang baik," kata Dokter Hasto.

Dalam paparan terkait tema keluarga, Hasto menjelaskan bahwa pembangunan keluarga adalah pondasi utama tercapainya kemajuan bangsa. BKKBN kemudian mendefinisikan pembangunan keluarga itu adalah untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas, yang hidup dalam lingkungan yang sehat. 

Indonesia Emas 2045 menjadi tantangan serius karena ada batu loncatannya, tahun 2030 harus terlampaui dengan baik, seperti tidak ada yang kelaparan, tidak ada kemiskinan ekstrem, dan stunting seharusnya sudah turun jauh. Kemudian, angka pendidikan harus bagus. 

“Yang terakhir saya titip stunting, stunting itu pasti pendek, mereka yangg tadi terlalu muda, terlalu tua, anemia, bayinya stunting dan bayi stunting itu baru umur 40 tahun sudah central obes sehingga mudah terkena penyakit. Nah makanya stunting itu menjadi momok bagi bangsa karena kemudian pendapatannya orang stunting 20 persen lebih rendah dibandingkan yg tidak stunting, sehingga kalau kita ingin keluar dari middle income trap untuk menuju Indonesia Emas berat sekali, kalau stuntingnya terlalu banyak. Panjang badan penting diukur jangan hanya berat badannya saja, karena banyak yang gemuk ternyata stunting,” ujar Hasto.

“Anak anak kita yang ASInya eksklusif baru dibawah 70 persen, yang tinggal di rumah tidak layak huni masih 57 persen, yg makanannya beragam di kota DKI masih jauh lebih banyak dibandingkan di desa-desa, jadi tidak ada protein hewani. Jadi cegah stunting itu harus dengan protein hewani, telur atau lele," lanjut dia.

Hasto juga mengatakan terkait permasalahan menyusui. Ia mengatakan mengimbau para ibu menyusui anaknya selama enam bulan. Bayi harus sesering mungkin diberi ASI tanpa diberikan makanan yang lain (ASI eksklusif). 

"Sempurnakanlah menyusui sampai 24 bulan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), karena 96 persen bayi itu sudah menutup otaknya dan ini sudah diteliti di seluruh dunia, maka itulah pentingnya 1000 HPK,” kata Hasto.

Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Dr Syifa Fauzia mengatakan, beberapa tantangan yang ada di daerah masing-masing di seluruh Indonesia pihaknya dapat bersinergi dengan apa yang akan tentunya dilakukan pemerintah, khususnya BKKBN dan BKMT dan komponen lainnya untuk dapat bisa mencari solusi bersama tentunya dengan kebersamaan kita di BKMT. 

“Disini kita berbicara tentang bagaimana stunting, dan gizi buruk serta ibu hamil. Saya sebetulnya sangat sedih jika kita melihat di berbagai daerah, stunting gizi buruk, terutama pada ibu hamil ini menjadi tantangan yang harus dijawab oleh BKMT kalau kita lebih meluaskan program kita selain berdakwah, kita juga bisa melihat masyarakat perempuan dan anak disana. Apakah gizinya sudah terpenuhi, karena memang persoalan stunting ini jangan sampai terjadi apa lagi untuk anggota BKMT, ini harus kita sama-sama selamatkan," ujar Syifa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement