Rabu 18 Oct 2023 01:26 WIB

Yusril Ungkap Kronologi Pengerucutan Kandidat Cawapres untuk Prabowo

Yusril menyebut usulan Gibran menjadi cawapres Prabowo sudah lama muncul.

Rep: Bambang Noroyono, Febryan A, Wahyu Suryana/ Red: Andri Saubani
Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra (kiri) menyampaikan paparan didampingi Peneliti PoshDem Universitas Andalas Feri Amsari dalam diskusi OTW 2024 di Jakarta, Selasa (17/10/2023). Diskusi mengangkat tema Menakar Pilpres Pasca Putusan MK yang mengabulkan uji materi yang menyatakan batas minimal usia Capres-Cawapres tetap 40 tahun kecuali sudah berpengalaman sebagai kepala daerah di tingkat provinsi maupin kabupaten/kota.
Foto: Republika/Prayogi
Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra (kiri) menyampaikan paparan didampingi Peneliti PoshDem Universitas Andalas Feri Amsari dalam diskusi OTW 2024 di Jakarta, Selasa (17/10/2023). Diskusi mengangkat tema Menakar Pilpres Pasca Putusan MK yang mengabulkan uji materi yang menyatakan batas minimal usia Capres-Cawapres tetap 40 tahun kecuali sudah berpengalaman sebagai kepala daerah di tingkat provinsi maupin kabupaten/kota.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wali Kota Solo Gibran Rakabuming bukan kandidat mendadak untuk dipasangkan sebagai calon wakil presiden (cawapres) di internal Koalisi Indonesia Maju (KIM) dalam Pilpres 2024. Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan, nama putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu sebetulnya sudah muncul sejak lama sebagai alternatif untuk dipasangkan dengan calon presiden (capres) Prabowo Subianto.

Yusril bahkan mengatakan, selain menjagokan Prabowo dalam pencapresan, PBB, adalah satu-satunya peserta KIM, yang mengusulkan nama Gibran sebagai cawapres pendamping Ketua Umum Partai Gerindra itu. Yusril menceritakan, munculnya nama Gibran sebagai alternatif pendamping Prabowo untuk pilpres mendatang, setelah empat partai utama di KIM melakukan rapat besar untuk memberikan usul, dan menginventarisir nama-nama kandidat cawapres.

Baca Juga

Mulanya, kata Yusril, diskusi internal di KIM membahas soal citra Prabowo yang selama ini dicap sebagai wakil dari kelompok nasionalis. Menurut Yusril, karena itu, sebagai penyeimbang, partai-partai KIM mengusulkan pentingnya Prabowo menggandeng cawapres dari kalangan Islam untuk modal pemenangan. Prabowo, pun kata Yusril meminta masing-masing partai dalam KIM untuk mengusulkan minimal satu nama, dan maksimal tiga tokoh yang dapat dipinang sebagai cawapres.

“Setelah masing-masing partai (KIM) menuliskan nama-nama yang diusulkan (menjadi cawapres) ke dalam kertas, lalu dimasukkan ke dalam wadah, dan diserahkan kepada Pak Prabowo. Dan Pak Prabowo berlanjut sebentar, dan beliau mengatakan ada beberapa nama,” cerita Yusril, di Jakarta, Selasa (17/10/2023) malam.

 

Yusril melanjutkan, beberapa nama yang KIM usulkan menjadi cawapres tersebut, masing-masing mewakili tokoh dari luar Jawa, dari Jawa Barat (Jabar) termasuk DKI Jakarta, dan Banten, Jawa Tengah (Jateng) termasuk Yogyakarta, serta Jawa Timur (Jatim). Menurut Yusril, dari nama-nama yang diusulkan tersebut, terungkap di antaranya, adalah Khofifah Indarparawansa yang disebut kuat mewakili Jatim.

Menurut Yusril, nama mantan menteri sosial (Mensos) itu semakin tinggi ekspektasinya, karena belakangan nama Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hengkang dari KIM. “Dan seperti kita ketahui, Cak Imin (Muhaimin Iskanda) sudah ada di cawapresinya Pak Anies Baswedan,” kata Yusril.

Nama lainnya, kata Yusril adalah mantan Gubernur Jabar Ridwan Kamil, dan Susi Pudjiastuti yang juga memiliki reputasi tinggi mewakili Jabar. Akan tetapi, terkait peminangan Susi Pudjiastuti, kata Yusril negatif setelah mantan menteri keluatan tersebut bereaksi melalui media sosial (medsos

“Ibu Susi bereaksi di Twitter karena meminta namanya tidak diikut-ikutkan,” kata Yusril menceritakan.

Selanjutnya, dikatakan Yusril, muncul juga nama Yusril Ihza Mahendra bersama-sama dengan dua nama lainnya untuk dapat mendampingi Prabowo. Yakni Menteri BUMN Erick Thohir sebagai tokoh populer dari luar Jawa, dan Gibran sebagai tokoh yang punya elektabilitas tinggi di Jateng.

“Dari PBB, itu sudah kita katakan dari awal untuk mengajukan nama Yusril Ihza Mahendra, dan Pak Gibran. Jadi nama itu (Gibran) sudah kita sebutkan dari awal,” kata Yusril. Sebab itu, Yusril menegaskan, tak ada penolakan dari dirinya sebagai Ketua Umum PBB dalam wacana untuk memasangkan Prabowo dan Gibran dalam bursa pencalonan presiden dan wakil presiden di Pilpres 2024 mendatang.

“Jadi tidak perlu lagi seolah-olah kami tidak setuju untuk Pak Gibran ini, jika dipilih oleh Pak Prabowo (sebagai cawapres),” kata Yusril.

Yusril pun menegaskan, apa pun yang menjadi keputusan KIM bersama Prabowo, PBB akan tetap taat. Yusril memastikan, PBB akan tetap mendukung pencapresan Prabowo, meskipun dipasangkan dengan siapa saja.

Dan kata Yusril, PBB akan tetap berada di barisan KIM dalam peta politik Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang. “Apapun yang menjadi keputusan Pak Prabowo, kita (PBB) akan tetap berada di koalisi. Dan jika Pak Gibran memang dianggap oleh Pak Prabowo lebih pantas untuk menjadi cawapresnya, kita komitmen saja untuk tetap mendukung. Jadi saya kira ini tidak ada masalah,” ujar Yusril.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement