Rabu 06 Sep 2023 15:28 WIB

Sindir Hasil Survei, PKB Ingatkan Kisah Persaingan Sudirman Said dan Ganjar

Luluk yakin pemilih semakin cerdas, terutama orang muda

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Teguh Firmansyah
Pasangan Anies Rasyid Baswedan-Abdul Muhaimin Iskandar (Amin) sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2024 telah tiba di Hotel Majapahit, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/9/2023).
Foto: Tangkapan layar
Pasangan Anies Rasyid Baswedan-Abdul Muhaimin Iskandar (Amin) sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2024 telah tiba di Hotel Majapahit, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PKB mengaku tidak khawatir melihat hasil-hasil survei untuk capres-cawapres menuju Pilpres 2024. Ketua DPP PKB, Luluk Nur Hamidah yakin Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar mampu memenangkan kontestasi.

Ia mengingatkan, pengalaman itu malah sudah pernah dilalui PKB ketika Pilgub Jateng 2018. Uniknya, saat itu PKB mengusung cagub yang sekarang jadi juru bicara Anies Baswedan, Sudirman Said, bersama Ida Fauziyah.

Baca Juga

Bahkan, pengalaman itu dilalui PKB bersama PKS. Ini karena saat itu partai pengusung Sudirman-Ida yaitu PKB, Gerindra dan PKS. Luluk menerangkan, saat itu tidak ada satupun survei yang memberi angka di atas 20 persen.

"Terbayang betapa sulitnya kita mengkonsolidasi dukungan, survei terus dibikin rendah, tapi hasil Pilgub di Jateng coba, selisihnya cuma tiga persen sama Mas Ganjar, bagaimana kita mau menjelaskan itu," kata Luluk, Rabu (6/9).

Ia menilai, selain waktu konsolidasi yang sangat singkat, koalisi PKB bersama PKS kala itu dihantam politic survey. Padahal, Luluk meyakini, pasangan Sudirman-Ida saat itu memiliki peluang besar untuk menang.

"Jateng itu benar benar injury time, ditambah politic survey yang men-downgrade kita," ujar Luluk.

Bahkan, ia mengungkapkan, Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, sampai ikut bingung harus ke luar biaya berapa banyak untuk bisa memperbaiki raihan survei. Sebab, itu penting untuk meningkatkan keterpilihan Sudirman-Ida.

"Karena hanya 13 persen, terakhir hanya 17 persen, itu kurang satu bulan dari Pilgub Jateng. Tapi, hasil Pilgubnya 47 persen, lalu ke mana yang 30 persen selama ini, sengaja tidak dimunculkan atau ada itu tadi," kata Luluk.

Luluk tidak menutup kemungkinan ada ruang-ruang yang tidak pernah bisa dipahami. Misal, kalangan Nahdliyin yang pada saatnya memilih mereka langsung menanggalkan perbedaan dan mengerucut kepada satu pilihan.

Luluk meyakini, pemilih semakin cerdas, terutama orang muda. Kemunculan generasi muda di Nahdliyin yang sudah melek media sosial maupun melek literasi akan membantu mengkonsolidasi semua kekuatan yang dimiliki.

"Ini yang kita harapkan, mudah-mudahan itu juga yang akan terjadi di 2024, terlepas bagaimana skepticism dari misalkan survei atau apapun," kata Luluk.

Sebelumnya, elektabilitas Anies Baswedan memang hampir selalu berada di posisi tiga di bawah Prabowo Subianto atau Ganjar Pranowo. Ini sempat pula membuat Anies kebingungan lantaran seringnya survei dilakukan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement