Selasa 15 Aug 2023 02:50 WIB

Daerah ini Siapkan 96 Ton Beras untuk Antisipasi Rawan Pangan Akibat Kemarau

Stok beras harus disiapkan untuk antisipasi kerawanan pangan akibat kemarau.

Ilustrasi kekeringan sehingga mengakibatkan stok beras berkurang.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Ilustrasi kekeringan sehingga mengakibatkan stok beras berkurang.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGGAMUS -- Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, memiliki sekitar 96,588,22 ton beras dari cadangan dan ketersediaan pangan daerah untuk mengantisipasi kerawanan pangan yang disebabkan kekeringan karena dampak El Nino maupun kemiskinan ekstrem.

"Cadangan pangan beras Tanggamus 28.309,09 kilogram ditambah ketersediaan 68.279,132 kg jadi untuk totalnya adalah 96,588,22 ton beras," kata Analis Pasar Hasil Pertanian Ahli Muda pada Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Kabupaten Tanggamus, Dharma Kesuma, saat dihubungi dari Pesisir Barat, Senin (14/8/2023).

Baca Juga

Ia menjelaskan, agar mampu memenuhi target stok CBP tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) akan menyiapkan benih khusus dengan spesifikasi tertentu yang mampu bertahan terhadap perubahan iklim yang saat ini menjadi kekhawatiran Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Ia mengatakan, untuk mengatasi masalah stok beras dan bahan pangan lainnya Kabupaten Tanggamus sudah menyiapkan stok beras di Bulog.

"Sudah kita Kabupaten ada cadangan pangan disimpan di gudang Bulog ketersediaan stok pangannya," kata dia.

Ia pula menjelaskan, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normalnya, yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.

El Nino meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah, dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia, sehingga El Nino dapat memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan semua pihak terkait dengan dampak yang ditimbulkan dari fenomena El Nino.

Puncak terjadinya El Nino diprediksi akan berlangsung pada bulan Agustus-September dan hal itu akan berakibat pada musim kemarau yang lebih kering dari kemarau saat tidak terjadi El Nino seperti pada tahun 2020, 2021, dan 2022.

Dia mengatakan, jika kondisinya semakin kering, dampak lanjutnya adalah lahan dan hutan menjadi mudah terbakar. Selain itu dampak yang diberikan itu kepada para petani karena air semakin kurang, sehingga sektor pertanian akan terganggu.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement