Kamis 10 Aug 2023 13:17 WIB

Tiga Kecamatan di Sukabumi Laporkan Terdampak Kekeringan

BPBD sebut tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi melaporkan terdampak kekeringan.

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Bilal Ramadhan
Suasana Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor yang terdampak kekeringan. BPBD sebut tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi melaporkan terdampak kekeringan.
Foto: Republika/Shabrina Zakaria
Suasana Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor yang terdampak kekeringan. BPBD sebut tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi melaporkan terdampak kekeringan.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Sebanyak tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi melaporkan sudah merasakan dampak kekeringan akibat musim kemarau. Sebab warga di tiga wilayah itu mengalami kesulitan air bersih dan sarana pengairan bagi areal pertanian.

"Kalau yang sudah melaporkan baru tiga kecamatan," ujar Manager Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna kepada Republika.co.id, Kamis (10/8/2023). Ketiga kecamatan itu, yakni Jampangtengah, Cicurug, dan Cisaat.

Baca Juga

Sementara untuk wilayah lainnya hingga kini belum melaporkan secara resmi dampak dari kekeringan kepada BPBD. Dari tiga kecamatan yang melapor ini terkait kesulitan air bersih untuk kebutuhan warga sehari-hari seperti di Kecamatan Cisaat.

Sementara di Kecamatan Jampangtengah dilaporkan kekeringan mengancam lahan pertanian seluas 12 hektare. Kondisi tersebut terjadi akibat mengeringnya aliran Sungai Cidahu yang menjadi sumber pengairan lahan pertanian di kecamatan tersebut.

Daeng menuturkan, BPBD sebelumnya telah memetakan ada sebanyak 28 kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang berpotensi mengalami dampak kekeringan akibat musim kemarau. Puluhan kecamatan tersebut tersebar merata baik di selatan dan utara Kabupaten Sukabumi.

"Terdapat 28 kecamatan dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang berpotensi mengalami kekeringan maupun krisis air bersih pada musim kemarau," kata Daeng.

Ke-28 kecamatan yang berpotensi akan mengalami kekeringan maupun krisis air bersih pada musim kemarau itu yakni Kecamatan Ciracap, Bantargadung, Ciemas, Cicurug, Cidahu, Cikakak, Cisolok, Gunungguruh, Gegerbitung, Parakansalak, Bojonggenteng, Parungkuda, Cibadak, Cikembar, Jampangkulon, Jampangtengah, Purabaya, dan Sagaranten.

Berikutnya kata Daeng, Kecamatan Cireunghas, Nagrak, Sukalarang, Cisaat, Palabuhanratu, Hongkong, Pabuaran, Waluran, Simpanan dan Kecamatan Warungkiara. Dari 28 yang berpotensi akan mengalami kekeringan tersebut ada satu kecamatan yang telah melaporkan dampak kekeringan.

Menurut Daeng, BPBD Kabupaten Sukabumi telah mengantisipasi dampak kekeringan yang meluas. Misalnya menginstruksikan seluruh Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) yang bertugas di setiap kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Sukabumi, untuk bersama-sama melakukan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat.

Terutama di wilayah yang berpotensi akan mengalami kekeringan. "Warga diimbau bersikap bijak dan berhemat dalam menggunakan air saat musim kemarau, baik itu air tanah maupun air permukaan," katanya.

Menurut Daeng, kekeringan terjadi karena ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup baik untuk pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Khusus kekeringan di bidang pertanian karena kesulitan pengaairan untuk lahan pertanian yang ada tanaman padi, jagung, kedelai, dan lain-lain.

Di sisi lain, kata Daeng, BPBD juga menyarankan agar masyarakat melakukan pengelohan air limbah rumah tangga yang masih dapat digunakan kembali atau grey water, seperti air cucian dapur dan baju serta kamar mandi.

Masyarakat juga, Daeng melanjutkan, dapat menjaga kepadatan pepohonan di lingkungan sekitar untuk mengurangi penguapan udara. Intinya menjaga lingkungan hidup agar tetap hijau dan lestari.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement