Selasa 01 Aug 2023 13:58 WIB

Sodetan Ciliwung Diresmikan, Politikus PSI Kembali Sindir Anies

Politikus PSI kembali menyindir Anies usai peresmian Sodetan Ciliwung.

Rep: Eva Rianti/ Red: Bilal Ramadhan
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono (kiri) melihat aliran sungai usai meresmikan sodetan Kali CIliwung. Politikus PSI kembali menyindir Anies.
Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono (kiri) melihat aliran sungai usai meresmikan sodetan Kali CIliwung. Politikus PSI kembali menyindir Anies.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Jakarta mengomentari Sodetan Ciliwung di Jakarta Timur yang akhirnya diresmikan Presiden Joko Widodo setelah bertahun-tahun mangkrak. PSI menilai ada sinergisitas antara Pemprov DKI Jakarta yang dipimpin Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta dengan pemerintah pusat. 

Sekretaris Fraksi PSI di DPRD DKI Jakarta, William A Sarana mengatakan, Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono telah melakukan langkah cepat dalam menyelesaikan proyek sodetan Ciliwung.

Baca Juga

Sodetan yang bertujuan mengatasi banjir di Jakarta itu diketahui merupakan proyek peninggalan Presiden Joko Widodo saat masih menjabat sebagai gubernur pada 2012 yang lalu. Sehingga kemangkrakan yang terjadi berkaitan erat dengan kurang gesitnya gubernur setelahnya. 

"Ini jadi pembelajaran, kalau Pj Gubernur tegak lurus dengan presidennya, masalah apapun cepat selesai. Indonesia adalah negara kesatuan, presiden adalah pimpinan dari seluruh gubernur. Kita mengapresasi Pak Heru sebagai gubernur tegak lurus ke Presiden Jokowi," kata William dalam keterangan tertulis, Selasa (1/8/2023). 

Dia menekankan presiden memang memiliki kewenangan mengatur dan mengoordinasikan jalannya pemerintah daerah di luar bingkai otonomi daerah. Sehingga gubernur mesti mengikuti arahan.

"Gubernur tidak boleh punya agenda sendiri yang bertentangan dengan Kebijakan Presiden. Dalam hal ini misalnya, Gubernur bertugas membebaskan lahan dan Presiden melalui Menteri PUPR melakukan normalisasi. Kalau Gubernur punya konsep bertentangan dengan Presiden dalam penanganan banjir, maka proses itu akan mangkrak," jelas dia. 

Lebih lanjut, William menuturkan, mengurus DKI Jakarta dengan masalah yang begitu kompleks tidak bisa dilakukan oleh Gubernur sendirian. Menurut penuturannya, hal itu harus bersama Presiden karena berkaitan dengan kota-kota sekitar Jakarta seperti Bogor, misalnya dalam konteks pengendalian banjir dari hulu ke hilir.

"Diperlukan sinergitas antara gubernur yang memimpin daerah dengan pemerintah pusat, khususnya Presiden untuk mengatur kebijakan antar Provinsi nantinya," tutup dia. 

Sebelumnya diketahui, Presiden Joko Widodo meresmikan Sodetan Ciliwung di Inlet Sodetan Ciliwung, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (31/7/2023). Proyek Sodetan Ciliwung ini dikerjakan selama hampir 11 tahun sejak Jokowi menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Bahkan belum selesai selama Anies Baswedan menjabat sebagai gubernur DKI.

Jokowi mengatakan, pembangunan Sodetan Ciliwung bisa mengurangi potensi banjir di enam kelurahan. "Urusan Sodetan Ciliwung ini sudah bertahun-tahun, sudah hampir 11 tahun, dan hari ini alhamdulillah selesai. Ini bisa menyelesaikan paling tidak enam kelurahan tidak banjir lagi," kata Jokowi dalam sambutannya.

Rampungnya proyek Sodetan Ciliwung ini juga akan menyelesaikan 62 persen permasalahan banjir di Jakarta. Namun, penanganan banjir Jakarta ini juga perlu dilakukan dari hulu hingga hilir. Oleh karena itu, pemerintah juga telah membangun Waduk Ciawi dan Waduk Sukamahi pada 2022.

"Dengan selesainya Sodetan Ciliwung ini juga menyelesaikan banjir Jakarta, baik tadi yang Bendungan Ciawi-Sukamahi, Sodetan Ciliwung, normalisasi Ciliwung, Banjir Kanal Timur, itu bisa menyelesaikan baru kira-kira 62 persen dari persoalan banjir yang ada di Jakarta," ujar Jokowi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement