Selasa 30 May 2023 14:10 WIB

Meninjau dari Dekat Jembatan Layang Warisan Ahok yang Mangkrak Delapan Tahun

JLNT Pluit sepanjang 10,1 km baru terbangun tiga km, dan mangkrak sejak 2015.

Jembatan Layang Non-Tol (JLNT) Pluit, Jakarta Utara, Selasa (30/5/2023).
Foto: Republika.co.id/Eva Rianti
Jembatan Layang Non-Tol (JLNT) Pluit, Jakarta Utara, Selasa (30/5/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Eva Rianti

Proyek Jembatan Layang Non-Tol (JLNT) Pluit, Jakarta Utara mangkrak selama hampir satu dekade sejak zaman eks gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Harapan mengatasi kemacetan di titik tersebut pun seolah menguap begitu saja. Hingga kini, pembangunan jembatan itu terlihat mangrak dan tak terurus.

Pantauan Republika.co.id di lokasi JLNT Pluit pada Selasa (30/5/2023) siang, jalan layang yang ditargetkan sepanjang 10,1 kilometer (km) sejak 2015, tersebut terlihat baru membentang sekitar tiga km. Semuanya berada di atas Jalan Pluit Barat Raya, Jakarta Utara.

Jalan layang tampak terbengkalai, terutama di sisi utara JLNT Pluit. Jika bergerak dari arah Jalan Pluit Karang Utara menuju ke arah Jalan Pluit Barat Raya, para pengendara bisa melihat di sisi kanan terdapat sekumpulan u ditch beton berwarna menghitam, serta telah tumbuh rerumputan dan pepohonan di ujung utara JLNT Pluit.

Selain itu, ada pula tumpukan sejumlah sampah. Tak hanya itu, di bagian dinding jalan layang terlihat ada coretan vandalisme pula. Di titik sisi utara tersebut ada kegiatan pembakaran sampah dan beberapa orang yang nongkrong atau berjaga di sekitarnya.

Selain itu, ada pula kegiatan latihan mengemudi kendaraan roda empat yang dilindungi beberapa buah traffic cone. Sementara itu, di sisi ujung selatan JLNT Pluit, kondisinya cenderung lebih kondusif dan terawat.

Tidak ada beton-beton yang menghitam, rerumputan yang tumbuh menjulang, ataupun sampah. Alias kosong. Jalan layang di sisi tersebut tepat di samping gedung Pompa Bimoli Pluit, tersambung dengan jalan berpasir yang dilintasi lalu lalang kendaraan truk.

Namun, sisi selatan JLNT Pluit tersebut lebih banyak aktivitas masyarakat di kolongnya. Tampak kendaraan roda dua dan kendaraan roda tiga atau bajaj dominasi berwarna putih parkir berjejeran di kolong jalan layang. Ada beberapa warung yang dibangun di kolong tersebut. Ada pula kegiatan warga berupa jual beli besi tua tak jauh dari warung-warung yang ada.

Jalan layang tersebut terlihat turut membentang ke arah barat melintasi Kali Karang yang kondisi airnya berwarna hitam dengan kapasitas cukup tinggi. Namun, tidak terlihat dengan jelas kondisi ujungnya karena berhimpitan dengan pemukiman.

Sementara itu, kondisi lalu lintas di sekitar JLNT Pluit tampak ramai lancar siang itu. Sejumlah kendaraan roda dua hingga roda banyak melintasi kawasan tersebut. Seorang warga sekitar, Hengki mengatakan, JLNT Pluit telah dibangun sejak 2015 silam. Hingga sekarang jalan layang tersebut masih belum beroperasi.

Meski begitu, ia tidak mengetahui penyebab pastinya. "Sudah sejak delapan tahun yang lalu ini dibangunnya, saat saya masih remaja. Enggak tahu (mengapa mangkrak)," kata Hengki kepada Republika.co.id saat ditemui di Pluit, Jakarta Utara, Selasa (30/5/2023).

Dia menuturkan, jalan di bawah JLNT Pluit memang kerapkali mengalami kemacetan, terutama saat jam sibuk berlangsung. Hal itu menjadi daya dorong agar jalan layang bisa segera terealisasi untuk bisa mengurai kemacetan yang terjadi. "Ya sering macet di sini," ucap Hengki singkat.

Warga lainnya yang kerap melintasi jalan sekitar JLNT Pluit, Ayu, mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang dipimpin oleh Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono untuk segera menindaklanjuti fasilitas jalan yang mangkrak tersebut. Sehingga tujuan awal untuk mengurai kemacetan di titik sekitarnya pun dapat diwujudkan.

"Sayang lah udah kelihatan jadi begitu beton-beton pilarnya, tapi enggak dilanjutin, jadi mubazir," kata Ayu. JLNT Pluit diketahui dibangun pada masa Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta. Jalan layang itu dirancang untuk menghubungkan kawasan Pluit dengan akses tol Bandara Soekarno-Hatta dan Tol Tanjung Priok.

Sehingga sebagian kendaraan yang sebelumnya melintasi kawasan Jalan Pluit Barat akan masuk ke jalan layang ini. Menurut Ahok, perkembangan kawasan Pluit dan sekitarnya sangat pesat dan jika tidak ada penambahan ruas jalan maka pada masa datang kemacetan di kawasan tersebut akan menjadi sangat parah.

Pembangunan JLNT Pluit didanai oleh perusahaan pengembang swasta melalui dana corporate social responsibility (CSR)-nya. Proyek tersebut sempat mendapatkan protes melalui demonstrasi yang dilakukan masyarakat karena dinilai mengganggu kenyamanan dan menyebabkan banjir, namun Ahok menampiknya.

"Jalan layang ini dibangun untuk mengurangi kemacetan di kawasan Pluit dan sekitarnya sehingga tidak mungkin warga menolaknya," tutur Ahok di Jakarta pada 26 Oktober 2015.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement