Rabu 15 Mar 2023 01:12 WIB

Pertamina akan Menggusur Lebih Dulu Warga di Buffer Zone Sebelum Merelokasi Depo Plumpang

Opsi segera menutup Depo Plumpang tak mungkin karena akan mengganggu distribusi BBM.

Kementerian BUMN masih terus melakukan investigasi terkait penyebab kebakaran di Depo Plumpang, Jakarta Utara. Pertamina akan memperbaiki zona buffer zone setelah insiden kebakaran ini. (ilustrasi)
Foto: Republika/Fakhtar Khairon Lubis
Kementerian BUMN masih terus melakukan investigasi terkait penyebab kebakaran di Depo Plumpang, Jakarta Utara. Pertamina akan memperbaiki zona buffer zone setelah insiden kebakaran ini. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Intan Pratiwi, Eva Rianti

Jajaran direksi Pertamina pada Selasa (14/3/2023) hadir dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR/MPR, Jakarta. Dalam rapat itu, Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati merespons adanya dua pendapat soal apakah Depo Plumpang atau warga di sekitarnya yang direlokasi pascainsiden kebakaran pada Jumat (3/3/2023) lalu.

Baca Juga

"Jadi kalau tadi ditanya apakah warganya yang direlokasi atau terminalnya, jawabannya 'dan' tetapi timeframe yang berbeda. Maksudnya warga di sini adalah yang buffer zone karena Terminal Plumpang tidak bisa kita tutup. Ini bisa berpengaruh terhadap ketahanan suplai nasional," ujar dia.

Dalam rapat itu, Nicke pun mengilustrasikan vitalnya Depo Plumpang sebagai rantai suplai bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya, di area Depo Plumpang bukan hanya terdapat tangki BBM, namun juga ada fasilitas produksi terkait bahan bakar lainnya seperti liquid petroleum gas (LPG) dan pelumas. 

 

Khusus BBM, Nicke memerinci, Depo Plumpang menyuplai 790 SPBU yang yang tersebar di 19 kota dan kabupaten. Depo Plumpang juga disebutnya menyimpan sekitar 15 persen BBM dari total stok nasional. 

"Kalau kita melihat letaknya yang strategis. Kalau tiba-tiba kita off-kan maka value chain-nya terputus, akan menggangu distribusi, jadi agar tetap beroperasi maka pembangunan buffer zone ini penting. Karena opsi untuk langsung menutup sekarang itu tidak mungkin. Oleh karena itu agar semuanya aman termasuk masyarakat sekitar aman termasuk operasional aman maka pembangunan buffer zone ini sesuatu hal yang urgent dilakukan," kata Nicke.

Sementara soal rencana relokasi ke lahan PT Pelindo di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, ia mengatakan lahan tersebut nantinya bakal digunakan untuk mendukung program transisi energi Pertamina. Program transisi itu sudah dimulai sejak tiga tahun lalu.

"Mengenai penjelasan adanya terminal di Kalibaru. Jadi, sekitar tiga tahun lalu, kami sudah mulai melakukan perencanaan untuk ini bahwa Pertamina harus melakukan transisi energi bahwa ke depan BBM itu mungkin akan berkurang demand-nya," ujar Nicke.

Oleh karena itu, Pertamina memerlukan fasilitas untuk membangun produk-produk baru seperti petrochemical, green/sustainable aviation fuel, hydrogen, biofuel, dan lain-lain. Namun, kata dia, lahan di Kalibaru tersebut baru siap untuk dibangun pada akhir 2024.

"Kalau yang di Kalibaru yang memang akan kami bangun, dan nanti lahan dari Pelindo itu baru siap dibangun di akhir 2024. Jadi, setelah itu baru kami siap membangun. Itu pun perlu waktu antara 2-3 tahun, sehingga terminal baru ini mungkin baru jadi nanti sekitar 4 atau 5 tahun kemudian," tuturnya.

Asal kebakaran

Nicke juga mengungkapkan insiden kebakaran di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Plumpang, Jakarta Utara, Jumat (3/3/2023) malam bukan berasal dari tangki BBM. Sehingga menurutnya, tangki-tangki dan seluruh instalasi fasilitas yang ada di TBBM Plumpang masih aman tidak terbakar.

"Insiden itu ada di mana? Bukan di tangkinya tetapi di pipanya. Kalau dilihat ada pipa yang masuk ke dalam tangki tersebut. Di pipa inlet itulah yang terjadi kebakaran," ucap Nicke.

Ia menjelaskan api yang membakar pipa tersebut dapat dipadamkan dalam waktu 1 jam setelah kejadian dan berikutnya proses pendinginan. Adapun, kata dia, suplai BBM selanjutnya menggunakan pipa yang berasal dari laut untuk menjamin suplai BBM tetap aman kepada masyarakat.

"Sehingga pasokannya menggunakan yang dari laut, menggunakan pipa yang dari laut sehingga itu untuk memastikan suplai BBM untuk 22 kabupaten/kota itu tetap terjamin walaupun ada insiden ini. Kami waktu itu menjalankan komitmen dan kami menyampaikan kepada masyarakat bahwa kami jamin suplai karena ini tadi tangki-tangkinya semuanya aman, kami langsung on-kan pengiriman yg dari laut," ungkap Nicke.

Ia juga menyampaikan sampai saat ini, proses investigasi penyebab terjadinya kebakaran tersebut masih dilakukan oleh tim Pertamina dan pihak-pihak terkait lainnya.

"Adapun penyebab kebakaran ini masih dilakukan investigasi yang terdiri dari aparat penegak hukum, kemudian dari Ditjen Migas Kementerian ESDM dan juga tim dari Pertamina. Hasil investigasi belum selesai, belum keluar, tentu nanti kalau sudah ada bisa kami sampaikan dalam forum yang lain," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Nicke secara pribadi dan seluruh jajaran Pertamina meminta maaf atas insiden kebakaran tersebut. "Saya pribadi dan seluruh jajaran Pertamina ingin mengucapkan permohonan maaf, rasa prihatin, dan duka yang mendalam atas terjadinya insiden ini dan kami berusaha memberikan seluruh upaya terbaik untuk melakukan penanggulangan dari insiden yang tidak sama-sama kita inginkan ini," ucap dia.

Per Selasa (14/3/2023), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyatakan jumlah korban kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Koja, Jakarta Utara menjadi lebih dari 20 orang. Data tersebut tercatat per Selasa petang. 

"Hingga pukul 18.00 WIB, korban meninggal sebanyak 23 jiwa. Sedangkan, sebanyak 22 orang sedang dalam penanganan tim medis di empat rumah sakit," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta Isnawa Adji, Selasa. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement