Rabu 08 Feb 2023 01:26 WIB

Tiga Parpol yang Berpeluang Menang di Pemilu 2024 Menurut Survei

Hingga kini hanya ada tiga parpol yang elektabilitasnya di atas 10 persen.

Peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa, memaparkan hasil survei elektabilitas parpol bertajuk
Foto:

Survei nasional LSI Denny JA dilakukan pada 4-15 Januari 2023 dengan riset kualitatif, dan menggunakan 1200 responden di 34 provinsi di Indonesia. Wawancara dilaksanakan secara tatap muka. Margin of error survei  adalah sebesar +/- 2,9 persen. Riset kualitatif dilakukan dengan analis media, Focus Group Discussion (FGD), dan indepth interview.

Selain memprediksi parpol yang berpeluang memenangkan pemilu, survei LSI Denny JA juga merekam partai yang memiliki elektabilitas 4-10 persen. Mulai PKB dengan elektabilitas 8,0 persen, Partai Demokrat dengan 5,0 persen, PKS dengan 4,9 persen dan Partai Nasdem dengan elektabilitas 4,4 persen.

Menurut Ardian, partai-partai ini memang sudah aman ambang batas parlemen. Tetapi, ia mengingatkan, parpol-parpol ini masih memiliki ancaman karena memang masih belum terpaut begitu tinggi, elektabilitas baru mencapai 4-10 persen.

"Jadi, baru ada tujuh partai yang masuk dalam titik aman pertama," ujar Ardian

Mereka, lanjut Ardian, masih berusaha mendapatkan minimal lima besar agar benar-benar aman. Walau frekuensinya agak lebih sedikit, tantangan suara yang didapat menjadi hilang atau ancaman ketidaklolosan ambang batas masih ada.

Sedangkan, untuk partai-partai lain elektabilitas mereka masih 1-4 persen. Seperti Perindo dengan 2,8 persen, PPP yang sudah langganan masuk dengan 2,1 persen dan PAN yang juga sudah langganan masuk parlemen dengan 1,9 persen. 

Sisanya, elektabilitas di bawah satu persen. Ada PSI 0,5 persen, PBB 0,3 persen, Partai Garuda 0,3 persen, Partai Ummat 0,3 persen, Partai Hanura 0,1 persen, Partai Buruh 0,1 persen, Partai Gelora 0,1 persen dan PKN dengan 0,1 persen.

Ardian merujuk sejarah buruk Partai Hanura dan Partai Bulan Bintang (PBB) yang sebelumnya sempat jadi partai-partai yang lolos ambang batas parlemen, namun kemudian terlempar keluar Senayan. Fakta sejarah mencatat, partai yang pernah lolos DPR sekalipun bisa jatuh jadi partai non-parlemen jika gagal merawat konstituennya.

"Ini sudah ada sejarahnya di Partai Hanura dan di Partai Bulan Bintang (PBB)," kata Ardian.

Ia mengingatkan, Partai Hanura sudah dua kali masuk parlemen karena mendapat 3,77 persen pada Pemilu 2009 dan 5,26 persen pada Pemilu 2014. Tetapi, pada Pemilu 2019 saat ambang batas parlemen sudah empat persen, Partai Hanura gagal lolos.

Hal serupa dialami PBB yang lolos pada Pemilu 1999 dengan perolehan 1,94 persen dan lolos pada Pemilu 2004 dengan 2,62 persen. Namun, pada Pemilu 2014 dan 2019 ketika ambang batas sudah empat persen PBB tidak berhasil lolos ambang batas.

Saat ini, survei LSI Denny JA pada 4-15 Januari 2023 mencatatkan elektabilitas yang belum baik dari Partai Hanura dan PBB. Partai Hanura mencatat elektabilitas yang baru 0,1 persen, sedangkan elektabilitas PBB baru mencapai 0,3 persen.

Selain itu, ada PPP yang turut mencatatkan torehan elektabilitas kurang baik. Sebab, sebagai partai yang sudah berdiri sebelum reformasi, PPP menjadi satu-satunya yang tidak menjadi partai besar atau elektabilitas di bawah 10 persen.

"PPP jadi satu-satunya partai yang lahir sebelum reformasi yang saat ini tidak menjadi partai besar bahkan kita sampaikan masuk kategori partai kecil," kata Ardian.

Meski kerap disebut banyak hasil survei tak lolos ambang batas parlemen sebesar 4 persen, PPP menargetkan 40 kursi DPR pada Pemilu 2024. Rasa optimistis tersebut disampaikan, mengingat konstituen PPP yang loyal.

"Kita yakini Pemilu 2024 akan datang dengan target 40 kursi minimal akan tercapai, dan itu tekad kontrak politik saya sebagai Plt PPP. Tentunya dengan seluruh kader-kadet diseluruh Indonesia juga melalukan konsolidasi secara nasional," ujar pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum PPP, Muhammad Mardiono di Kantor DPP PPP, Kamis (5/1/2023) lalu.

Dalam menghadapi Pemilu 2024, partai berlambang Ka'bah itu memegang teguh enam prinsip perjuangan. Pertama adalah prinsip ibadah. Kedua adalah prinsin amar ma'ruf nahi munkar. Selanjutnya adalah prinsip kebenaran, kejujuran, dan keadilan.

"Keempat, prinsip musyawarah. Kelima, prinsip persamaan, kebersamaan, dan persatuan. Keenam adalah prinsip istiqomah," ujar Mardiono.

Enam prinsip tersebutlah yang menjadikan PPP sebagai partai besar di Indonesia pada hari lahirnya yang ke-50 tahun. Serta enam prinsip perjuangan untuk menjemput kemenangan pada Pemilu 2024.

"Kebangkitan, kejayaan, dan kebesaran PPP tidak akan pernah terjadi bilamana kita semua hanya bisa berpangku tangan, mengeluh, dan saling melempar kesalahan di antara para pengurus,' ujar Mardiono.

 

photo
Empat Tantangan Partai Islam - (infografis republika)

 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement