Rabu 12 Oct 2022 08:05 WIB

Bupati Lebak Ingatkan Warga Waspada Cuaca Buruk Tiga Hari ke Depan

Bencana di Bayah, Lebak membuat 25 hektare sawah gagal panen dan 2 jembatan terputus.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Petugas menggunakan alat berat membangun pondasi jalan darurat akibat bencana alam di Desa Cilangkap, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Senin (13/6/2022).
Foto: ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas
Petugas menggunakan alat berat membangun pondasi jalan darurat akibat bencana alam di Desa Cilangkap, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Senin (13/6/2022).

REPUBLIKA.CO.ID,LEBAK -- Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengingatkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam agar meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca buruk ke depan. Hal itu ditandai hujan lebat disertai petir dan angin kencang yang terjadi di Kabupaten Lebak, akhir-akhir ini.

"Kami menerima informasi dari BMKG cuaca buruk akan berlangsung sampai 15 Oktober 2022," kata Iti Octavia saat mengunjungi warga korban banjir di Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Rabu (12/10/2022).

Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat tentu dapat mengurangi risiko kebencanaan sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Selama ini, kata Iti, wilayah Kabupaten Lebak rawan bencana alam, karena topografinya terdapat pegunungan, perbukitan, aliran sungai dan pesisir pantai selatan Pulau Jawa.

Potensi bencana alam itu akibat cuaca buruk yang berpeluang terjadi banjir, longsor, angin puting beliung, gelombang tinggi hingga pohon tumbang. Karena itu, pemerintah daerah menerjunkan tim BPBD, relawan, TNI, Polri dan instansi terkait untuk penanganan evakuasi di lima kecamatan yang dilanda bencana banjir dan longsor.

 

Bahkan, TNI dan Polri telah menyediakan penjernihan air bersih, penyaluran bahan pokok hingga pelayanan pengobatan terhadap warga di lokasi bencana alam. Kelima kecamatan yang terdampak bencana alam itu antara lain Bayah, Panggarangan, Cigembong, Cilograng dan Cibeber.

Apalagi di daerah itu terdapat aliran sungai besar yang hulunya dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). "Kami banyak terimakasih kepada TNI, Polri dan relawan yang telah membantu warga korban bencana banjir dan longsor," kata Iti.

Menurut dia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak kini melakukan pendataan kerusakan sarana infrastruktur jembatan, jalan hingga sarana pendidikan, pondok pesantren, dan tempat ibadah. Kerusakan sarana infrastruktur bisa kembali dibangun melalui anggaran biaya tak terduga (BTT), sehingga kehidupan masyarakat kembali normal.

Selain itu, pendistribusian logistik berupa kebutuhan bahan pokok, lauk pauk, makanan, minuman kemasan, peralatan tidur dan pakaian. Pendistribusian logistik sangat diutamakan untuk memberikan pelayanan dasar agar warga korban bencana alam mengalami kerawanan pangan.

Iti juga minta tim relawan agar masyarakat korban banjir yang mengalami sakit agar dievakuasi ke puskesmas setempat. Pasalnya, tidak mungkin daerah bencana banjir mendirikan posko pelayanan kesehatan. "Kita berharap tim relawan dapat mengevakuasi warga yang sakit pascabencana banjir ke puskesmas," kata Iti.

Sekretaris Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Edi Supriadi mengatakan, masyarakat yang terdampak bencana alam di wilayahnya sebanyak 339 kepala keluarga (KK). Bencana itu juga menyebabkan sekitar 25 hektare sawah gagal panen dan dua jembatan terputus, serta satu titik jalan longsor.

Namun, beruntung bencana alam yang terjadi di Kecamatan Bayah tidak menimbulkan korban jiwa. "Kami minta warga yang tinggal di bantaran sungai agar meningkatkan waspada jika curah hujan meningkat," kata Edi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement