Senin 26 Sep 2022 17:13 WIB

IDI Akui Adanya Laporan Kelangkaan Stok Vaksin Covid-19

Stok vaksin sangat penting karena animo nakes untuk booster kedua masih tinggi.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Indira Rezkisari
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin booster kedua kepada nakes di RSUI, Depok, Jawa Barat, Kamis (11/8/2022). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Depok, pelaksanaan vaksinasi booster kedua untuk tenaga kesehatan sudah mencapai 492 orang dari sasaran 11.127 orang nakes.
Foto: ANTARA/Asprilla Dwi Adha
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin booster kedua kepada nakes di RSUI, Depok, Jawa Barat, Kamis (11/8/2022). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Depok, pelaksanaan vaksinasi booster kedua untuk tenaga kesehatan sudah mencapai 492 orang dari sasaran 11.127 orang nakes.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PB IDI, dr Adib Khumaidi, SpOT membenarkan adanya laporan kelangkaan stok vaksin Covid-19 di beberapa daerah. Menurut Adib laporan tersebut pun sudah ia sampaikan ke Kementerian Kesehatan.

"Ada beberapa daerah yang melaporkan itu (stok vaksin langka) dan itu pun langsung segera kami tindaklanjuti berkomunikasi dengan pihak terkait (Kemenkes)," kata Adib saat ditemui di Jakarta, Senin (26/9/2022).

Baca Juga

Menurut Adib, ketersediaan stok vaksin sangatlah penting di tengah antusiasme masyarakat mendapatkan booster yang masih sangat tinggi. Ia pun menyoroti saat ini sentra vaksinasi sudah tidak sebanyak seperti pada tahun lalu.

"(Stok vaksin) sangat penting pada saat respons masyarakat masih tinggi terhadap vaksinasi booster. Sehingga tolong ketersediaannya bisa terjamin karena harus ada vaksin yang terdistribusi kami sudah kami sampaikan ke pemerintah juga," kata Adib.

 

Hadir dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah menyampaikan hal yang sama. Ia mengatakan antusiasme perawat untuk mendapatkan vaksinasi dosis penguat sangatlah tinggi.

"Antusiasme masih tinggi, hanya saja sama seperti booster pertama persoalan distribusi vaksin yang menjadi masalah. Selain itu, data jumlah perawat di pusat dan di daerah terkadang masih berbeda," ungkap Harif.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi mengatakan pihaknya menargetkan 95 persen tenaga kesehatan mendapatkan booster kedua. Karena, nakes merupakan garda terdepan saat pandemi Covid-19.

"Minimal 95 persen, tapi berharap 100 persen karena untuk nakes yang merupakan garda terdepan," kata Nadia.

Perihal cakupan vaksin dosis keempat yang masih rendah, menurut Nadia salah satu penyebabnya adalah ada beberapa nakes yang menjadi penyintas Covid-19. Sehingga, perlunya jeda waktu untuk pemberian booster.

"Ada (nakes) yang positif kemarin jadi masih menunggu waktu antara booster pertama 6 bulan dan kalau positif kan 3 bulan," terang Nadia.

Ihwal ketersediaan stok vaksin yang langka, Nadia memastikan saat ini masih aman dan terkendali. Pihaknya juga akan terus memastikan ketersediaan vaksin terutama di daerah.

"Kami mematikan ketersediaan vaksin dan (untuk booster kedua) kami mendorong pihak manajemen rumah sakit melakukan percepatan vaksinasi nakes di institusinya," ujar Nadia.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, untuk dosis keempat atau dosis penguat kedua pada tenaga kesehatan pada Senin (26/9/2022) tercatat sebanyak 593.765 orang atau 40,34 persen. Sementara penerima vaksinasi Covid-19 dosis ketiga baru 26,95 persen atau 63,23 juta orang. Diketahui, target total sasaran vaksinasi sampai tahap akhir adalah 234.666.020 dosis.

Masih berdasarkan data yang sama, warga yang sudah mendapat suntikan vaksin Covid-19 dosis lengkap atau dosis pertama dan kedua, tercatat sebanyak 72,91 persen atau 171.095.922. Adapun untuk cakupan dosis pertama sudah mencapai 87,14 persen atau 204.481.103 dosis.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement