Senin 21 Feb 2022 10:46 WIB

Komnas HAM Minta Aparat di Wadas Dikurangi Jumlahnya

Komnas HAM tegaskan pemulihan trauma warga Wadas masih jadi PR utama.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Indira Rezkisari
Personel TNI dan Polri melakukan kegiatan bakti sosial di desa Wadas Bener, Purworejo.
Foto: Humas Polda Jateng
Personel TNI dan Polri melakukan kegiatan bakti sosial di desa Wadas Bener, Purworejo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkapkan aparat kepolisian masih menunjukkan kehadirannya di Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah. Komnas HAM berharap semua pihak mendorong pemulihan trauma akibat insiden di Wadas beberapa waktu lalu.

Komisioner Komnas HAM RI Beka Ulung Hapsara memperoleh kabar soal kehadiran aparat di Wadas. Padahal warga Wadas sempat mengalami trauma dengan aparat usai insiden penangkapan sejumlah warganya. Saat itu, ratusan aparat menangkap puluhan warga yang kontra rencana tambang andesit.

Baca Juga

"Informasi ke saya, aparat yang ada di sana lebih untuk soal kerja kemanusiaan bukan untuk tugas penyelesaian kasus," kata Beka kepada Republika, ditulis Senin (21/2/2022).

Guna mencegah berlarutnya trauma, Beka mendukung berbagai kegiatan perekat warga. Ia berharap warga Wadas yang sempat berselisih karena berbeda pandangan soal tambang andesit dapat kembali rukun.

"Ada beberapa kegiatan kultural bareng seperti pengajian, kerja bakti. Itu sudah mulai berjalan dari mulai LBH Ansor, Gusdurian, oganisasi lain juga sudah kerja bareng untuk merekatkan kembali masyarakat. Saya kira itu positif," ujar Beka.

Namun Beka berpesan agar peran aparat dikurangi dalam kegiatan semacam itu. Hal tersebut sudah disampaikan Beka saat melakukan kunjungan ke Wadas pada 12 Februari. Ia menekankan pemulihan trauma harus diutamakan karena warga masih trauma dengan situasi di desanya.

"Kalau pun sudah dipastikan bisa (kerjasama antar warga) maka harus jangkau semua warga tidak cuma satu kelompok saja, lebih baik yang mengerjakan adalah warga meminimalisir peran aparat. Bahwa aparat yang punya gawe itu iya, tapi setidaknya maksimalkan peran warga dalam kerja bareng itu lebih baik," ujar Beka.

Beka juga mendukung peran berbagai organisasi masyarakat guna membantu warga Wadas. "Lebih baik bagi-bagi peran mana yang ranahnya aparat, mana ranahnya ormas atau lembaga kemanusiaan," ucap Beka.

Sebelumnya, Amnesty International Indonesia mengkritisi penerjunan ratusan anggota gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP ke Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kedatangan mereka dalam rangka pengukuran lahan untuk proyek Bendungan Bener serta penangkapan setidaknya 25 warga Wadas.

"Penurunan aparat keamanan secara besar-besaran dan bersenjata lengkap ke Desa Wadas merupakan bentuk intimidasi terhadap warga Wadas yang menolak tambang batu andesit di sana," kata Deputi Direktur Amnesty International Indonesia Wirya Adiwena dalam siaran pers.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement