Jumat 22 Oct 2021 14:28 WIB

Lemhannas Diajak Atasi Kehancuran Kolektif Akibat Teknologi

Teknologi telah membuka pintu ketidakpastian masa depan manusia.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Jakarta Geopolitical Forum V Tahun 2021 yang diselenggarakan Lemhannas secara daring di Jakarta, Jumat (22/10).
Foto: Dok Lemhannas
Jakarta Geopolitical Forum V Tahun 2021 yang diselenggarakan Lemhannas secara daring di Jakarta, Jumat (22/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) diharapkan membuka ruang bagi kerja sama tingkat lokal, nasional, regional, maupun internasional untuk membahas kemungkinan kehancuran kolektif akibat perkembangan teknologi.

Kepala Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-Hak Asasi Manusia (Pusdema) Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Baskara T Wardaya, mengatakan, masalah ketahanan nasional hendaknya tidak hanya mencakup masalah bagaimana mempertahankan diri dari kemungkinan serangan militer oleh negara lain.

"Ketahanan nasional juga menyangkut ketahanan bersama segenap umat manusia dari kemungkinan kehancuran kolektif sebagai akibat pesatnya perkembangan teknologi," tutur Baskara saat menjadi pembicara acara 'Jakarta Geopolitical Forum V Tahun 2021' yang diselenggarakan Lemhannas secara daring di Jakarta, Jumat (22/10).

Menurut Baskara, untuk menanggulangi hilangnya eksistensi individu maupun hancurnya manusia secara kolektif, sejumlah langkah praktis perlu segera diambil. Dalam ruang lingkup sosial-ekonomi-politik, kata dia, perlu semua pihak berani mengangkat kembali berbagai bentuk kearifan lokal dan tradisional yang mengajarkan penghormatan kepada alam.

 

Komunitas adat yang biasanya kental dengan pengalaman menjaga lingkungan maupun dalam menyikapi modernitas (termasuk teknologi), kata Baskara, perlu terus diajak dialog dan berbagi pengalaman serta pengetahuan kepada masyarakat luas.

Dia juga merekomendasikan dalam dunia pendidikan generasi muda, perlu segera ditambahkan materi belajar yang mengajarkan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan lokal maupun universal.

"Artinya, kepada para siswa perlu ditawarkan materi belajar berisi pentingnya sikap-sikap yang melampaui sekat-sekat primordialitas serta sikap-sikap lain yang bisa mendorong para peserta-didik untuk berani ikut memikirkan masalah-masalah kemanusiaan pada umumnya," ujar sejarawan yang akrab disapa Romo Baskara itu.

Sejak akhir abad pertengahan, kata dia, penemuan dan pengembangan sains dan teknologi telah memberikan kegunaan dan harapan yang besar kepada umat manusia. Romo Baskara menyebut, banyak sekali buah pemikiran dan inovasi yang dihasilkannya, dan dengan gembira manusia menyambutnya.

Namun, pada masa kini, sambung dia, kemajuan teknologi telah memberikan berbagai kenyamanan dan kemudahan kepada manusia. Ternyata, berbagai kenyamanan dan kemudahan yang diberikan itu hanyalah satu sisi dari teknologi. "Bagaikan pedang bermata dua, teknologi memiliki sisi lain," ucap Romo Baskara.

Dengan perkembangannya yang nyaris tak terbendung, dia melanjutkan, teknologi telah membuka pintu ketidakpastian masa depan manusia, sebagai salah satu spesies penghuni planet bumi. Melalui kemajuan teknologi, kata Romo baskara, ada bahaya karena ulahnya sendiri.

Pada masa mendatang manusia sebagai pribadi menjadi semakin kehilangan jati-dirinya. "Bagi para pemilik dan pengelola teknologi internet, manusia akan dipandang sekadar sebagai 'gumpalan informasi' yang akan diurai menjadi serpihan-serpihan data," ujar Romo Baskara.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement