Selasa 12 Jan 2021 11:38 WIB

Ahli Fisika Prediksi Sriwijaya Air Kehilangan Daya Angkat

Prof Budi Santoso memprediksi, pesawat bukan meledak ketika berada di udara.

Rep: Selamat Ginting/ Red: Erik Purnama Putra
Dankormar Mayjen Suhartono (kanan) bersama personel Marinir mengangkat temuan puing pesawat Sriwijaya Air SJ182 di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Ahad (10/1).
Foto: EPA-EFE/Bagus Indahono
Dankormar Mayjen Suhartono (kanan) bersama personel Marinir mengangkat temuan puing pesawat Sriwijaya Air SJ182 di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Ahad (10/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli fisika Prof Budi Santoso menganalisis penyebab pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu (9/1) sore WIB. Menurut Budi, pesawat jatuh karena kehilangan daya angkat dan berbelok terlalu miring demi menghindari cuaca buruk.

"Biasanya, kalau kemiringan kebablasan akan dikoreksi oleh sistem kontrol. Namun, kalau ada turbulensi sistem kendali tak berdaya mengoreksi," ucap Budi kepada Republika, Selasa (12/1).

Budi menyebut, pesawat Sriwijaya Air jatuh bebas hingga menukik. Dia menduga, pilot mencoba menghindari cuaca buruk secara tiba-tiba dengan posisi pesawat miring. Kondisi itulah yang menyebabkan pesawat Boeing tersebut tidak memiliki daya angkat.

"Ketika pesawat jatuh bebas, tiba-tiba saja orang kehilangan kesadaran, apalagi menukik. Pesawat menghantam permukaan laut dengan kecepatan tinggi, dalam keadaan mesin hidup. Pasti tangki bahan bakar pecah dan ditelan api mesin jet, hingga meledak," kata sekretaris jenderal Dewan Ketahanan Nasional (sesjen Wantannas) periode 2003-2005 itu.

Karena itu, Budi memprediksi, pesawat bukan meledak ketika berada di udara. Karena kalau meledak di udara, sambung dia, sebaran pecahan bodi pesawat luas. "Ini tersebar pula, cuma di dalam air. Itu tanda ledakan menjadi berkeping, bahkan tubuh pun berkeping," ujar Budi yang mengaku banyak mengamati jatuhnya pesawat yang kehilangan daya angkat karena posisinya yang miring.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement