Rabu 10 Jun 2020 23:35 WIB

Sejak Pandemi, Imunisasi di Makassar Menurun Signifikan

Kepala Puskesmas menyebut terjadi penurunan imunisasi anak di Makassar

Petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) menimbang berat badan bayi saat imunisasi.
Foto: FAUZAN/ANTARA FOTO
Petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) menimbang berat badan bayi saat imunisasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Sejak wabah Coronavirus Disease (COVID-19) melanda di berbagai daerah termasuk wilayah Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, jumlah anak yang diimunisasi mengalami penurunan signifikan.

"Iya, ada penurunan kira-kira 25 persen dari biasanya. Sejak pandemi Corona warga sudah jarang membawa anaknya ke Puskesmas untuk divaksin," ungkap Kepala Puskesmas Rappokalling Makassar, Gusti, saat dikonfimasi, Kamis (10/6).

Ia menuturkan, biasanya pelaksanaan imunisasi dilaksanakan setiap Jumat, namun sejak virus corona baru ini merebak, terjadi penurunan kedatangan orang tua ke puskesmas membawa anaknya untuk di vaksin kekebalan tubuh.

Selain itu, bila dihitung rata-rata jumlah warga yang datang semakin sedikit atau diperkirakan hanya 60-75 persen dari 100 persen sebelum COVID-19 menyebar di Kota Makassar dan daerah lainnya di Sulsel.

"Warga sebagian masih takut, tapi ada juga yang masih membawa anaknya untuk diimunisasi. Kami selalu menyampaikan dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang tata cara pencegahan COVID," papar Gusti menambahkan.

Pemberian imunisasi ini, kata dia, sangat penting bagi anak untuk menguatkan imunnya dari serangan penyakit seperti campak dan polio. Bila tidak divaksin maka akan berdampak buruk bagi anak tersebut kelak. Padahal, layanan imunisasi ini gratis.

Ditempat terpisah, Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Fatimah, Andriani Misdar mengatakan, sejauh ini pihak rumah sakit menutup sementara poliklinik termasuk pelayanan anak.

Bahkan di masa pandemi pemberian imunisasi kepada pasien mengalami penurunan drastis, karena masyarakat masih takut ke rumah sakit.

"Masa COVID, poliklinik ditutup, tidak ada pelayanan, kecuali emergency (darurat). Akhir Maret ditutup. Tapi saya sudah bicara dengan dokter spesialisnya rencana pelayanan poli pekan depan sudah dibuka," ucapnya sesuai mengikuti rapat di kantor DPRD Sulsel.

Andriani tidak memungkiri jumlah pasien anak mengalami penurunan sejak wabah ini menyebar. Selain itu, jarang orang tua membawa anaknya ke rumah sakit untuk divaksin, selain membayar retribusi, juga masih takut terjangkit Corona.

"Kecuali pasien rujukan atau orang tua yang fanatik Rumah Sakit Fatimah membawa anaknya imunisasi. Memang ada penurunan sejak Maret sampai Mei ini," bebernya. Penurunan jumlah pasien dimaksud, kata dia, biasanya di hari biasa sebelum virus ini merebak mencapai ratusan, kini tinggal belasan bahkan tidak ada pasien baru.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement