Jumat 24 Jan 2020 03:53 WIB

Polisi: Spanduk Ujaran Kebencian Rasial Bermotif Ekonomi

Tersangka mengaku motivasi pasang spanduk ujaran kebencian karena kerja sama.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus
Foto: Republika TV/Fian Firatmaja
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepolisian menyebutkan motif ekonomi menjadi alasan pemasangan spanduk berisi ujaran kebencian rasial di CIlilitan, Jakarta Timur. Spanduk tersebut diketahui dipasang oleh Ketua Gerakan Ormas Islam Betawi (GOIB) Jakarta Timur berinisial AMS.

Kepolisian telah menahan dan menetapkan status tersangka terhadap AMS dalam perkara spanduk berunsur SARA itu. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan, motif tersangka memasang spanduk itu berkaitan dengan masalah ekonomi.

Baca Juga

"Ini motivasinya sampai saat ini masih kita dalami karena pengakuannya menyangkut masalah ekonomi, katanya ada perjanjian lama dengan masyarakat setempat. Ini menurut pribadi yang bersangkutan," kata Yusri, Kamis (23/1).

Meski tersangka mengklaim ada perjanjian antara warga sekitar dan pihak Pusat Grosir Cililitan (PGC), polisi akan terus memeriksa tersangka untuk mendalami motifnya. "Masih kita dalami terus," ujarnya.

Spanduk itu dipasang pada sekitar 13 Januari 2020 di Cililitan, Jakarta Timur. Spanduk provokatif tersebut telah diturunkan oleh petugas dari Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Timur serta dibantu personel Koramil setempat.

Akibat perbuatannya itu AMS dijerat dengan Pasal 156 KUHP, Pasal 55 KUHP, UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Etnis Pasal 16 Jo pasal 4 huruf b dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. "Ancaman hukuman sekitar 5 tahun penjara," kata Yusri.

AMS ditangkap oleh penyidik kepolisian di kediamannya di Kramat Jati, Jakarta Timur pada Rabu (22/1) malam. "Yang bersangkutan berhasil diambil tadi malam di kediamannya di Kramat Jati, Jakarta Timur," ujarnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement