Kamis 10 Oct 2019 09:20 WIB

Khawatir Gempa, Orang Tua di Ambon Larang Anaknya Sekolah

Gempa susulan masih terjadi di Kota Ambon pada Kamis pagi.

Red: Nur Aini
Sejumlah pengungsi korban gempa bumi memperbaiki tenda yang ditempatinya di lokasi pengungsian Desa Waai, Pulau Ambon, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (5/10). Para pengungsi tersebut mengungsi ke hutan dan menempati tenda-tenda yang dibangun sendiri pascagempa yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya, Kamis (26/9).
Foto: ANTARAFOTO/Izaac Mulyawan
Sejumlah pengungsi korban gempa bumi memperbaiki tenda yang ditempatinya di lokasi pengungsian Desa Waai, Pulau Ambon, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (5/10). Para pengungsi tersebut mengungsi ke hutan dan menempati tenda-tenda yang dibangun sendiri pascagempa yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya, Kamis (26/9).

REPUBLIKA.CO.ID, AMBON -- Dampak gempa beruntun yang menguncang Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat pada Kamis (10/10), mengakibatkan para orang tua tidak mengizinkan anaknya ke sekolah.

"Saya tidak mengizinkan ketiga anak ke sekolah di kelurahan Lateri, kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon karena mengikuti perkembangan gempa yang dirilis BMKG sejak Kamis subuh," kata salah seorang orang tua murid di desa Passo, kecamatan Teluk Ambon, Helena di Ambon, Kamis (10/10).

Baca Juga

Dia merujuk, gempa melanda Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat pada pukul 04.45 WIT di wilayah yang sama pada koordinat 3.4 LS-128.39 BT terjadi gempa dengan magnitudo 2,6. Selanjutnya, gempa bumi dengan magnitudo 3,2 melanda Kairatu, kabupaten Seram Bagian Barat, Kamis pukul 05.00 WIT.

Dia mengaku khawatir dengan gempa bumi yang dirasakan di Kota Ambon. Gempa tersebut terjadi pada pukul 06:47:50 WIT pada koordinat 3.68 Lintang Selatan dan 128.16 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut dan dirasakan III MMI di Kota Ambon dan jaraknya hanya 3 KM Utara Ambon.

Apalagi, gempa susulan berlanjut magnitudo 2,6 pada pukul 08.39 WIT dan 2,7 pukul 09.03 WIT. Oleh karena itu, dia telah menelpon guru dari ketiga anaknya untuk meminta izin tidak ke sekolah pada hari ini (Kamis).

"Pusing bila anak ke sekolah lalu dihantui gempa yang masih mengguncang Kota Ambon dan sekitarnya, makanya lebih baik diliburkan," kata Helena.

Sedangkan, warga kelurahan Lateri, Simon mengemukakan, tidak mengizinkan anaknya ke sekolah karena khawatir gempa susulan sejak Rabu (9/10) pagi.

"Saya ini PNS di kantor Gubernur Maluku yang saat gempa menguncang berlarian keluar ruangan dan tidak kembali bekerja lagi bersama dengan teman-teman lainnya," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Ambon, Andi Azhar Ruzdin menegaskan, gempa bumi tektonik susulan dengan magnitudo 3,4 yang terjadi pada Kamis, (10/10) tidak berpotensi gelombang tsunami.

"Yang baru terjadi itu tidak berpotensi terjadi gelombang pasang dan masih aman," katanya.

Pusat gempa bumi berada di laut, tepatnya dalam Teluk Ambon sehingga guncangannya membuat anak-anak di sekolah kembali berhamburan ke luar ke halaman sekolah. BMKG tetap mengimbau masyarakat Pulau Ambon, Seram Bagian Barat dan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah untuk tetap tenang atau tidak panik saat terjadi gempa bumi susulan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement