REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Sebanyak 10 gedung atau bangunan bersejarah di Kota Cimahi lolos verifikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai cagar budaya. Namun, kesepuluhnya tidak langsung ditetapkan. Sebab, selanjutnya tim ahli cagar budaya daerah akan melakukan kajian.
Sepuluh bangunan tersebut yaitu Kolam Renang Berglust, Rumah Sakit Dustira, Gereja Santo Ignatius, Penjara Poncol, Gedung Sudirman (The Historic), Stasiun Cimahi, Bioskop Rio, Pos penjagaan Loji (Perpustakaan AH Nasution). Selanjutnya Rumah Potong Hewan (RPH) dan Masjid Baiturohman (Usman Domiri).
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Budi Raharja mengungkapkan pihaknya mendaftarkan 21 bangunan bersejarah di Kota Cimahi untuk menjadi cagar budaya. Namun hingga saat ini baru sepuluh bangunan yang lolos tahap verifikasi. "Sepuluh yang diverifikasi dan lolos. Yang kita daftarkan cagar budaya benda," ujarnya, Rabu (24/7).
Menurutnya, pihaknya mengirimkan data di antaranya foto, titik koordinat serta luas. Selanjutnya, bangunan bersejarah yang lolos verifikasi akan dikaji dan belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Kemudian, Wali Kota Cimahi akan menetapkan cagar budaya melalui surat keputusan yang dikeluarkan. "SK penetapan dari Wali Kota dikirim ke pusat dan nanti dari sana keluar penetapan semacam sertifikat," katanya.
Dia menambahkan, proses penetapan bangunan bersejarah sebagai cagar budaya dilakukan empat tahap hingga dikeluarkan SK nomor cagar budaya. Sisa bangunan yang belum diverifikasi, ia mengungkapkan yaitu Gedung Anom, Rumah Tinggal di Baros, Masjid Agung Cimahi, Makam Ereveld, Pesawat Dakota, Taman Kartini. Menara pusdikjas, Makam Mbah Cikur, Aula Kodim, Makam Santiong dan Tower PJKA.