Kamis 29 Sep 2016 07:23 WIB

Dilarang Bakar Lahan, Warga Sungai Utik Kini Susah Berladang

Warga Sungai Utik menjaga batas api berupa selokan kecil saat pembakaran lahan agar api tidak merembet
Foto: (foto dok AMAN)
Warga Sungai Utik menjaga batas api berupa selokan kecil saat pembakaran lahan agar api tidak merembet

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wartawan Republika, Priyantono Oemar

Jika ada pohon yang berguna, masyarakat adat Dayak Iban di Ketemenggungan Jalailintang akan membiarkan pohon itu tegak di ladang mereka. Yang utama adalah kayu tapang atau pohon madu, tempat madu bersarang. "Jika kayu tapang ditebang, namanya menawa’, yaitu dipercaya akan menimbulkan penyakit yang menyerang anggota keluarga inti," ujar Florensius Rengga kepada Republika, Selasa (27/9).

Pohon buah-buahan, seperti rambutan dan keranji, menurut warga Dayak Iban yang tinggal di Dusun Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, itu juga tak akan ditebang. Selebihnya, harus dibersihkan dari ladang. Pembersihan ladang dilakukan dengan cara pembakaran, yang dijamin oleh Pasal 69 ayat 2 UU No 32 Tahun 2009.

Tetapi akibat musibah kebakaran nasional 2015, aktivitas berladang mereka kini diawasi aparat. Mereka tentu merasa cemas, sementara perusahaan besar yang membakar lahan malah dibebaskan dari tuntutan hukum. "Jika tak membakar lahan, kita tak bisa berladang, jika tak berladang, akan terjadi kelaparan," ujar Rengga.

Rata-rata mereka mengolah ladang seluas setengah hektare. Persediaan padi di lumbung mereka hanya bertahan untuk tiga tahun. Padi disimpan di tibang, kotak kayu yang disimpan di bagian atas rumah panjai, rumah panjang yang menjadi tempat tinggal mereka.

Tempatnya terhormat, di atas mereka tinggal. Mereka tak akan membuat lumbung di ladang. "Pernah ada yang menyimpan padi di ladang, lalu didatangi roh-roh padi lewat mimpi yang menangis karena ditelantarkan," ujar Rengga.

Jika masih ada sisa padi yang bertahan hingga tahun keempat biasanya tidak mereka makan. "Kalau sudah empat tahun, nasinya tak mau menyatu, akhirnya diberikan ke ayam atau babi," kata Rengga.

Mereka panen hanya setahun sekali, Februari-April, untuk padi yang ditanam pada September tahun sebelumnya. Sebelum menanam padi, mereka perlu melihat bintang pukul 05.00. Jika dua rasi bintang itu sudah berdekatan --yaitu tiga bintang yang membentuk segitiga dan banyak bintang yang membentuk tasbih, kata Rengga, "Itulah saat tepat untuk bertanam."

Jika kelewat, misalnya baru Oktober menanam, biasanya akan gagal panen. Bintang segitiga (bintang vega, deneb, altair) di Indonesia baru kelihatan di Agustus-September. Di Jepang disebut sebagai gugusan bintang gingga.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement