Senin 22 Feb 2016 06:13 WIB

Kasus HIV/AIDS di Kalangan Homo Seksual di Karawang Terus Meningkat

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Muhammad Subarkah
 Ilustrasi penderita homoseksual.
Ilustrasi penderita homoseksual.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Karawang, Jabar, melansir penyebaran HIV/AIDS di wilayah ini semakin meningkat. Terutama, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Sampai akhir 2015 kemarin, jumlah penderita penyakit tersebut mencapai 566 jiwa.

Staf KPA Kabupaten Karawang, Awan Gunawan, mengatakan, dalam tiga tahun terakhir peningkatan kasus penyakit ini sangat drastis. Pada akhir 2013, hanya 352 kasus. Lalu, akhir 2014 meningkat jadi 462 kasus. Terakhir, di penghujung 2015 bertambah lagi jadi 566 kasus.

"Dari jumlah tersebut, 51 kasus penderitanya adalah gay (homo seksual)," ujarnya, Ahad (21/2).

Selain kasus, lanjutnya, faktor penularan juga sudah berubah. Jika sebelumnya banyak yang terinfeksi lewat jarum suntik. Sekarang, penyebarannya melalui hubungan seksual. Dari 566 kasus itu, 336 kasus HIV/AIDS menyebar melalui hubungan seksual. Sisanya, 113 kasus pengguna jarum suntik.

"Penularan di kalangan homoseksual semakin naik saja," ujarnya.

Sementara itu, Kasi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang Rina Hasriana, mengatakan, penyimpangan orientasi seks para kaum homo ini sangat rawan terkena penyakit kelamin. Selain bisa menyebabkan pendarahan di bagian anus, di dalam anal juga terdapat banyak bakteri atau virus.

"Potensi kena penyakitnya sangat tinggi. Karena, berhubungan seks bukan pada tempatnya," ujarnya.

Menurutnya, saat ini penyandang kelainan seksual ini terus menunjukkan eksistensi mereka. Bahkan, mereka sudah terang-terangan menunjukan jati diri. Kondisi inilah yang akhirnya memicu penyebaran HIV/AIDS menjadi lebih cepat.

Karena itu, pihaknya meminta supaya masyarakat lebih waspada lagi. Supaya, tidak terjerat dalam lembah penyimpangan seksual. Karena setelah diteliti, mereka terjebak dalam dunia homo berawal dari rasa penasaran lalu menjadi kebiasaan.

Untuk mengatasi kelainan seksual ini, Rina menyarankan agar mereka berkonsultasi dengan psikolog. Sehingga, secara bertahap mereka akan kembali normal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement