Selasa 05 Jan 2016 12:13 WIB

MUI dan Jokowi Bahas Upaya Mediasi Saudi dan Iran di Istana

Rep: Amri Amrullah/ Red: Winda Destiana Putri
Jokowi
Foto: ROL/Fian Firatmaja
Jokowi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) menemui Presiden Joko Widodo di Istana negara pada Selasa (5/1).

Salah satu agenda pertemuan tersebut adalah peran Indonesia menjadi peace mediator dalam mendinginkan hubungan antara Arab Saudi dan Iran yang memanas beberapa hari ini.

Pimpinan MUI Bidang Hubungan Luar, KH. Muhyidin Junaidi mengatakan pertemuan denan Presiden ini memang membahas beberapa hal terkait masalah umat Islam yang berkembang baik di Indonesia maupun luar negeri. Salah satunya terkait memanasnya hubungan Arab Saudi dan Iran serta peran Indonesia sebagai peace mediator.

"Kita sudah sampaikan ke Presiden agar Indonesia tidak terlibat dalam ketegangan dua negara ini. Kita juga memberi masukan bagaimana Indonesia meredakan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran sebagai peace mediator," ujarnya kepada Republika.co.id, Selasa (5/1).

 

Mengapa Indonesia perlu mengambil sikap ini. Menurut dia, karena Indonesia, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar memiliki hubungna yang sangat baik antara Arab Saudi dan Iran  selama ini. Selain itu ketegangan antara dua negara Islam berpengaruh di dunia ini, justru akan memberi dampak dan citra buruk bagi Islam sendiri.

"Kita tidak ingin dampaknya terjadi pada umat Islam dunia," katanya.

Diakui dia, peran Indonesia untuk menjadi peace mediator antara Iran dan Arab Saudi memang tidak sesederhana yang disampaikan.

Karena banyak yang melatarbelakangi  konflik antara Arab Saudi dan Iran ini baik secara teologi, politik dan ekonomi. Untuk itu, MUI memberikan masukan beberapa hal penting agar upaya Indonesia sebagai peace mediator ini dapat memberi solusi tepat bagi dunia Islam.

Ketegangan antara Arab Saudi dan Iran kembali memanas setelah Saudi mengeksekusi salah satu pemimpin Syiah Saudi Al Nimr atas tuduhan teror dan penentangan terhadap pemerintah Saudi pada Sabtu lalu.

Langkah Saudi ini pun mendapat tentangan keras di Iran sebagai negara Islam Syiah terbesar dan berujung pada dibakarnya kantor kedutaan Saudi di Teheran.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement