REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekira 10 ribu pengunjuk rasa dari sejumlah organisasi masyarakat (ormas) Islam, mengepung Istana Merdeka. Mereka berdemo di depan Istana Merdeka untuk menolak kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Jumat (30/3). Tak hanya menolak kenaikkan harga BBM, massa juga menuntut tegaknya syariat Islam di Indonesia.
Dengan berpakaian serba putih dan mengibarkan bendera serta poster, ribuan pengunjuk rasa tersebut mendengarkan orasi di depan pintu gerbang silang barat laut Monas.
"Turunnya harga BBM merupakan hal yang sangat kecil. Perkara yang paling besar adalah tegaknya syariat Islam dan tauhid terhadap Allah SWT di Indonesia," kata Ustad Wakil Amir Majelis Mujahidin, Abu Jibril dalam orasi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (30/3).
Dalam orasinya, Abu Jibril menuntut Mahkamah Konstitusi (MK) untuk mencabut Keputusan MK tanggal 17 Februari tentang status anak hasil zina. "Menghalalkan hal yang diharamkan adalah kejahatan paling besar di muka bumi. Jika MK tidak memncabut keputusan ini, maka bukan Mahkamah Konstitusi namanya, tapi 'mematikan konstitusi'", sebut Abu Jibril yang juga menolak undang-undang tentang kesetaraan gender yang sedang digodok oleh DPR.
Sementara itu, lalu lintas dari arah Harmoni menuju Jalan M.H. Thamrin yang melalui Jalan Medan Merdeka Selatan dialihkan karena massa memenuhi jalan Medan Merdeka Barat.
Ormas Islam yang berunjuk rasa diantaranya adalah Front Pembela Islam, Jamaah Ansharut Tauhid, Laskar Pembela Islam, dan Front Pemuda Islam. Hingga pukul 16.50 WIB, unjuk rasa berlangsung tertib.