Senin 11 May 2026 19:12 WIB

Melacak Jejak Hantavirus di Indonesia

Kemenkes mencatat kematian akibat hantavirus di Indonesia mencapai 23 orang.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Fitriyan Zamzami
Suasana di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Kamis (18//4/2024). (ilustrasi)
Foto: Republika/Prayogi
Suasana di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Kamis (18//4/2024). (ilustrasi)

Oleh Fitriyan Zamzami dan Gumanti Awaliyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Keberadaan hantavirus jadi sorotan sehubungan terjadinya penularan yang menyebabkan kematian di kapal pesiar MV Hondius saat sedang berlayar di selatan Samudera Atlantik. Ternyata, virus yang berasal dari tikus itu sudah lama terdeteksi keberadaannya di Indonesia. 

Baca Juga

Merujuk arsip Republika, sejak 1980-an telah berkembang virus mematikan ini di Indonesia . Gejalanya mirip demam berdarah.  

''Virus ini punya potensi untuk dikembangkan menjadi biological weapon (senjata biologis),'' kata peneliti khusus Hantavirus dari Puslitbang Ekologi, Departemen Kesehatan, Drh Irma Nurisa Ibrahim, kepada Republika, pada 2009  lalu.

Sifat mudah menularnya yang bisa melalui angin (airborne), menurut Ima, menjadikannya berbahaya bila disalahgunakan. Mulai dari kotorannya, urine, bahkan ludah tikus dengan segala jenisnya.

Begitu terhirup, dengan gampang saja manusia dapat terjangkit. Begitu disebarkan ke udara dalam jumlah tertentu, banyak korban manusia yang bisa jatuh.

photo
Petani menunjukkan tikus yang mati saat kegiatan gropyokan tikus atau membasmi tikus secara bersama di persawahan Desan Undaan Lor, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (1/11/2024). - (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Konteks pembicaraan Ima mengenai Hantavirus, sebuah virus yang diduga sejak lama sudah menjangkiti tikus di Indonesia tanpa diketahui orang kebanyakan. Saat ini, Hantavirus diduga telah menyebar di sejumlah pulau di Kepulauan Seribu.

Virus yang ditularkan melalui hewan tikus ini ternyata bukan hanya berbahaya bagi kesehatan manusia di sana, tapi berbahaya jika disalahmanfaatkan.

Di laboratorium, virus ini dimasukkan dalam kategori yang harus dikarantina dengan pengamanan tingkat empat. Tingkat pengamanan ini hanya satu tingkat saja di bawah pengamanan untuk virus Ebola, virus mematikan yang pernah menyerang benua Afrika.

Penuturan Ima Nurisa di atas menggambarkan betapa berbahayanya virus ini. Hantavirus ini, menurut Puslitbang Kesehatan, mulai mendapat perhatian dunia pada 1951.

photo
Proses penurunan penumpang dan awak kapal pesiar MV Hondius yang terkena wabah hantavirus di Pelabuhan Granadilla de Abona di Tenerife, Spanyol, Ahad (10/5/2026). Kapal tersebut terkena wabah hantavirus selama penyeberangan Atlantik Selatan, yang menyebabkan tiga orang meninggal. - (EPA/ALBERTO VALDES)

Saat itu, virus Hantaan (HTNV)--salah satu varian Hantavirus ini--mewabah di kalangan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas di sekitar Sungai Hantaan, Korea Selatan. Sebanyak lebih dari 2.000 pasukan AS tertular kala itu. Sebagian diantaranya meninggal.

Dari situ, Hantavirus dengan berbagai variannya mulai menyebar ke seluruh dunia. Diduga, perantaranya melalui jalur pelayaran.

Di Asia, Hantavirus mengambil bentuk sebagai virus Hantaan dan Seoul (SEOV). Sedangkan di Eropa, dia berbentuk virus Puumala (PUUV), Dobrova (DOBV), dan Saremaa (SAARV).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement