REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penolakan terhadap kenaikan gaji sebesar 18,2 persen menjadi potret terbaru dari politik Zohran Mamdani. Dewan Kota New York pada Kamis (16/7/2026) menyetujui kenaikan pendapatan wali kota dari 258.750 dolar AS atau sekitar Rp4,65 miliar menjadi 305.800 dolar AS atau Rp5,50 miliar per tahun.
Keputusan yang disetujui melalui pemungutan suara 42 berbanding enam itu memberi Mamdani tambahan penghasilan sebesar 47.050 dolar AS atau sekitar Rp845,8 juta per tahun. Namun, wali kota berusia 34 tahun tersebut memilih tetap menerima gaji lama.
“Saya tidak akan menerima kenaikan gaji,” kata Mamdani. Ia berkelakar belum pernah mengetuk pintu warga New York dan mendengar keluhan bahwa wali kota mereka dibayar terlalu sedikit.
Secara fiskal, penolakan tambahan gaji itu tidak akan mengubah anggaran Kota New York secara berarti. Namun, secara politik, pesannya jauh lebih besar. Mamdani sedang mempertahankan citranya sebagai pejabat yang memusatkan perhatian pada biaya hidup warga, bukan kesejahteraan pribadi pejabat.
Tindakan tersebut sekaligus memperlihatkan salah satu kunci popularitasnya: kesesuaian antara pesan dan simbol. Selama kampanye, Mamdani berbicara tentang warga yang tercekik sewa rumah, biaya pengasuhan anak, harga bahan makanan, dan ongkos transportasi. Setelah berkuasa, ia berusaha menunjukkan bahwa penghematan juga berlaku bagi dirinya.
Namun, seberapa populer sebenarnya Mamdani? Apakah dukungan itu lahir dari keberhasilan kebijakan, kecakapan komunikasi, atau kegelisahan warga terhadap ketimpangan ekonomi di kota yang menjadi pusat keuangan dunia?
Populer, tetapi Bukan Tanpa Penolakan
Jajak pendapat Marist Poll yang dirilis pada 8 April 2026 menunjukkan 48 persen penduduk dewasa New York menyetujui kinerja Mamdani dalam 100 hari pertama pemerintahannya. Sebanyak 30 persen tidak menyetujuinya, sedangkan 23 persen belum dapat memberikan penilaian.
Pandangan terhadap pribadi Mamdani lebih positif daripada penilaian atas kinerjanya. Sebanyak 55 persen responden memiliki pandangan baik terhadap dirinya, berbanding 33 persen yang berpandangan negatif.
Survei Marist dilakukan terhadap 1.454 penduduk dewasa New York pada 26–31 Maret 2026, dengan margin kesalahan plus-minus 3,3 poin persentase. Angka tersebut memperlihatkan Mamdani memiliki lebih banyak pendukung daripada penentang, tetapi tingkat persetujuannya belum mencapai mayoritas mutlak.
Kinerjanya pada 100 hari pertama juga masih berada di bawah pendahulunya, Eric Adams. Menjelang 100 hari pertama pemerintahan Adams pada 2022, Marist mencatat tingkat persetujuan sebesar 61 persen dan penolakan 24 persen. Perbandingan itu penting agar popularitas Mamdani tidak digambarkan secara berlebihan.




