Selasa 21 Jul 2026 14:01 WIB

Mengapa Iran Terus Gempur Negara-Negara Arab, Tapi tak Targetkan Kapal Induk AS?

Analis menilai strategi Iran untuk menekan Washington agar menghentikan serangan.

Pesawat tempur AS diparkir di pangkalan militer AS di Bahrain yang terkena serangan Iran pada 2026.
Foto: Maxar Technologies
Pesawat tempur AS diparkir di pangkalan militer AS di Bahrain yang terkena serangan Iran pada 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, Iran selalu membalas serangan Amerika Serikat (AS) saat ini khususnya ke wilayah sekitar Selat Hormuz. Namun jika diperhatikan berdasarkan laporan dan pernyataan resmi, Teheran merespons serangan AS dengan mengebom infrastruktur militer dan sipil di negara-negara Teluk Persia dan Yordania tanpa manargetkan langsung kapal-kapal AS di perairan Arab dan aset militer di Israel.

Saat CENTCOM menghantam stasiun kereta, pembangkit listrik, jaringan telekomunikasi, hingga infrastruktur air bersih di Iran, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) merespons dengan menyerang bandara-bandara sipil dan pusat penyulingan air bersih di Kuwait dan Bahrain. Menurut analis, terdapat sebuah alasan logis di balik strategi Iran ini.

Baca Juga

"Menargetkan kapal perang AS akan memicu respons besar dari AS" ujar pensiunan jenderal asal Lebanon yang juga analis militer Elias Hanna kepada Al Jazeera, Senin (20/7/2026).

"Masalah lainnya adalah menargetkan aset Angkatan Laut itu sulit secara militer karena dilindungi oleh sistem pertahanan udara canggih," kata Hanna menambahkan.

Namun, mengapa Iran menargetkan serangan ke negara-negara tetangganya? Atifeh Taghiani, seorang profesor dari Universitas Teheran, berpendapat bahwa AS menjadikan negara-negara Teluk, khususnya Kuwait menjadi tempat untuk menyerang infrastuktur sipil Iran.

Pada perang Maret hingga April lalu, para pejabat Iran berlasan bahwa serangan ke negara-negara Teluk Persia lantaran agresi AS dilancarkan pangkalan militer di negara-negara itu. Alasan itu tetap digunakan oleh Teheran saat ini meski para pemimpin negara Teluk menegaskan bahwa, mereka tidak memperbolehkan wilayahnya dijadikan landasan oleh AS untuk menyerang Iran.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Taghiani mengatakan bahwa hukum internasional memberikan Iran hak untuk membalas kepada negara manapun di mana serangan mulanya dilancarkan. Teheran menegaskan, serangan AS juga menargetkan infrastruktur sipil karena Washington " ingin memperdalam permusuhan di antara negara-negara di kawasan dan mencoba membuat Iran kesulitan membalas."

photo
Sejumlah pejabat berdiri di atas jembatan yang rusak akibat serangan AS di jalan antara Rudan dan Bandar Abbas di Iran selatan, 18 Juli 2026. Serangan AS telah menyasar beberapa lokasi di seluruh wilayah Iran selatan. - (EPA/AMIR HOSSEIN KHORGOOEI)

 

Abdullah al-Shayji, seorang profesor ilmu politik dari Universitas Kuwait, mambantah argumentasi Taghiani dengan menyebutkan sebagai 'propaganda' Iran yang terus diulang. Menurutnya, tudingan AS melancarkan serangan dari negara-negara di kawasan Teluk Persia tak realistis kerana, "semua serangan berasal dari dua kapal induk AS, George W Bush dan Abraham Lincoln, yang saat ini berjarak tak lebih dari 150 kilometer dari semenanjung pantai Iran."

Menurut al-Shayji, negara-negara Teluk setuju dengan AS bahwa tentara AS ditempatkan di wilayahnya terbatas untuk tujuan pertahanan dan sudah diinformasikan ke Teheran bahwa wilayah mereka tak akan dijadikan landasan untuk menyerang Iran. Al-Shayji mengatakan klaim Iran tidak didukung oleh bukti-bukti.

Al-Shayji menduga Iran tahu bahwa rudal-rudal penjelajah dan Tomahawk diluncurkan dari kapal-kapal induk tapi Iran khawatir atas konsekuensi jika mereka membunuh prajurit AS jika kapal-kapal induk itu mereka bom. Alih-alih, al-Shayji menambahkan, Teheran terus melanjutkan apa yang ia gambarkan sebagai sebuah kesalahan strategis dengan menargetkan negara-negara Teluk Persia dengan harapan mereka bisa menekan Washington untuk menghentikan peperangan.

Diketahui Iran terus melancarkan serangan balasan ke negara-negara tetangganya termasuk mengebom fasilitas penyulingan air bersih di mana mayoritas warga Kuwait sangat bergantung kepadanya. Al-Shayji mengingatkan bahwa, Kuwait adalah negara yang sangat menentang normalisasi dengan Israel namun kini ikut menanggung beban akibat perang AS-Iran.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi