Senin 20 Apr 2026 22:29 WIB

Pakar UGM: Tambang Itu Seringkali Terkait Banyak Pihak

Langkah Kejagung ini perlu diikuti dengan membuat sistem tata kelola tambang.

Penyidik Kejaksaan Agung mengawal Ketua Ombudsman RI 2026 - 2031 Hery Susanto (kedua kanan) seusai menjalani pemeriksaan dan penetapan tersangka di Gedung Bundar Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Kejaksaan Agung menetapkan Ketua Ombudsman RI Hery Susanto sebagai tersangka dalam kasus korupsi tata kelola usaha pertambangan nikel di wilayah Sulawesi Utara.
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Penyidik Kejaksaan Agung mengawal Ketua Ombudsman RI 2026 - 2031 Hery Susanto (kedua kanan) seusai menjalani pemeriksaan dan penetapan tersangka di Gedung Bundar Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Kejaksaan Agung menetapkan Ketua Ombudsman RI Hery Susanto sebagai tersangka dalam kasus korupsi tata kelola usaha pertambangan nikel di wilayah Sulawesi Utara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pakar hukum dari Universitas Gadjah Mada, Muhammad Fatahillah Akbar, mengatakan pertambangan memang seringkali berkait dengan banyak pihak. Sehingga ketika ada persoalan hukum seringkali banyak pihak yang terkait.

“Dalam kasus penangkapan Ketua Ombudsman RI dalam kasus tambang, ini terkait dengan dugaan suap dalam pembuatan rekomendasi,” kata Fatahillah. Tidak heran jika kasus di nikel Sulawesi Tenggara bisa melibatkan pihak lain

Saat ini Kejaksaan Agung (Kejagung) sangat aktif dalam melakukan penindakan atas kasus-kasus tambang. Dikatakan Fatahillah, langkah Kejagung ini perlu diikuti dengan membuat sistem tata kelola tambang, yang bisa mengeliminasi perbuatan-perbuatan koruptif.

Langkah memiskinkan pelaku korupsi tambang, menurut Fatahillah, sebenarnya ketentuannya sudah ada. Misalnya dengan membayar uang pengganti kerugian negara. “Dengan begitu maka (penegak hukum) bisa menyita aset semaksimal mungkin,” ungkapnya.

Langkah Kejagung yang gencar dalam mengusut perkara tambang, kata Fatahillah, harus juga dilakukan dengan membangun tata kelola yang baik. “Pemerintah harus menutup celah korupsi, pengawasan dioptimalkan, dinas-dinas di daerah juga dioptimalkan,” kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement