
Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra
REPUBLIKA.CO.ID, Dunia hari ini seperti berjalan di tepi jurang yang tidak terlihat. Dentuman rudal, ledakan drone penyerang mungkin hanya terdengar di Timur Tengah, tetapi getarannya sampai ke dapur-dapur rumah tangga di seluruh dunia. Kita hidup di zaman ketika satu keputusan militer di satu kawasan bisa mengubah harga beras, ongkos transportasi, bahkan harapan hidup seseorang di tempat yang jauh.
Dan di tengah semua itu, kita dipaksa menerima sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi normal: perang. Mari kita bicara jujur, bukan dengan emosi, tetapi dengan angka.
Dalam konflik antara Amerika–Israel melawan Iran yang kini telah melebar secara regional, biaya perang bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal. Dalam 6 hari pertama saja, Amerika telah menghabiskan lebih dari $11–12 miliar. Itu berarti hampir $1,8 miliar per hari, atau sekitar $1,3 juta per menit.
Dan itu baru permulaan. Beberapa estimasi menunjukkan total biaya bisa menembus $1 triliun jika perang berkepanjangan—angka yang tidak lagi sekadar besar, tetapi absurd secara moral.
Mari kita turunkan angka itu ke bumi:
• $12 miliar bisa membiayai layanan kesehatan bagi lebih dari 1,3 juta orang selama setahun
• ratusan miliar dolar bisa menghapus kemiskinan ekstrem di banyak negara
• triliunan dolar bisa membangun peradaban, bukan menghancurkannya
Tetapi hari ini, uang itu dibakar—secara harfiah. Namun perang tidak hanya memakan anggaran. Ia memangsa masa depan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan konflik ini dapat menghapus $194 miliar output ekonomi di kawasan dan mendorong jutaan orang ke dalam kemiskinan, dengan jutaan pekerjaan hilang.
Selat Hormuz, urat nadi energi dunia, terancam. Hampir 20% pasokan minyak global terganggu. Harga energi melonjak. Inflasi menjalar. Negara-negara jauh dari medan perang ikut membayar harga yang tidak mereka pilih.
Jepang khawatir ekonominya terguncang. Perusahaan global menahan investasi. Rantai pasok terganggu. Perang hari ini tidak lagi lokal. Ia adalah virus global. Dan di balik semua angka itu, ada sesuatu yang tidak bisa dihitung.
Warga sipil yang kehilangan rumah.
Anak-anak yang kehilangan orang tua.
Kota yang berubah menjadi puing sebelum sempat tumbuh menjadi harapan.
Laporan menunjukkan serangan telah menghantam infrastruktur sipil, memicu korban di berbagai kota, dan membuka risiko eskalasi yang lebih luas. Perang selalu diklaim sebagai strategi. Tetapi yang mati selalu manusia.
Ada satu ironi yang terlalu pahit untuk diabaikan: Drone yang digunakan Iran bisa bernilai sekitar $50.000, sementara sistem pertahanan untuk menembaknya bisa mencapai $4–12 juta per unit. Artinya, dunia hari ini menghabiskan jutaan dolar untuk menghancurkan sesuatu yang bernilai puluhan ribu—dan seringkali gagal menghancurkan akar masalahnya.
Kita menyaksikan logika yang terbalik: semakin mahal perang, semakin murah nyawa manusia. Dan jika kita cukup jujur, kita tahu ini bukan hanya soal keamanan.
Perang juga menggerakkan industri. Kontrak senjata menggelembung. Produksi misil ditingkatkan. Perusahaan pertahanan bersiap menikmati ratusan miliar dolar keuntungan. Di satu sisi, ada tangisan.
Di sisi lain, ada laporan laba.
Peradaban macam apa yang membiarkan dua hal itu berdampingan tanpa rasa bersalah?
Saya ingin berhenti sejenak—bukan untuk menyimpulkan, tetapi untuk bertanya. Apa sebenarnya yang sedang kita pertahankan?
Jika keamanan harus dibayar dengan ketidakamanan global,
jika kemenangan harus dibangun di atas reruntuhan kemanusiaan,
jika stabilitas justru melahirkan ketakutan yang lebih luas—maka mungkin kita sedang menyelesaikan masalah dengan cara yang salah sejak awal.
Perang tidak pernah benar-benar menyelesaikan konflik. Ia hanya memindahkan penderitaan—dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ia menciptakan lingkaran:
ketakutan → serangan → balasan → eskalasi.
Dan setiap putaran membuat dunia semakin sempit bagi kemanusiaan.
Di titik ini, sikap netral adalah kemewahan yang tidak lagi kita miliki.
Menghentikan perang bukan idealisme kosong. Ia adalah kebutuhan rasional.
Karena setiap hari perang berlanjut:
• ekonomi dunia kehilangan stabilitas,
• jutaan orang kehilangan masa depan,
• dan kemanusiaan kehilangan lagi dirinya sendiri.
Maka seruan ini bukan retorika. Ini kesimpulan. Perang harus dihentikan.
Bukan karena kita lemah, tetapi karena kita cukup sadar untuk tahu bahwa tidak ada kemenangan sejati di atas penderitaan yang terus diperluas.
Bukan karena kita naif, tetapi karena kita mengerti bahwa biaya perang—ekonomi, sosial, dan moral—telah melampaui apa pun yang ingin dicapai darinya.
Dan bukan karena kita tidak punya pilihan, tetapi karena ini satu-satunya pilihan yang masih menyisakan masa depan.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling kuat menembakkan misil. Ia akan mengingat— siapa yang berani berhenti ketika dunia sedang terbakar.